Bank Dunia Warning RI: Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar di 2027

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 08:40 WIB
Foto: World Bank Group. (REUTERS/Akhtar Soomro/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - World Bank atau Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia semakin melebar akibat bauran kebijakan peningkatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan negara, serta subsidi energi.

Bank Dunia menyebut bauran kebijakan tersebut mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, namun di sisi lain turut memperlebar ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.


Sementara itu, Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%. Sebelumnya, pada laporan di April lalu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 4,7%. Artinya ada revisi peningkatan pertumbuhan sebesar 0,5%.

"Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang seiring dengan proyeksi melebarnya defisit transaksi berjalan menjadi 1,5% dari PDB pada tahun 2026," melansir Laporan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia edisi Oktober 2026 pada Rabu (7/10/2026).

Realisasi defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini sudah berada lebih parah dari prakiraan Bank Dunia. Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Nilai yang mencapai US$ 12 miliar tersebut bahkan menjadi defisit transaksi berjalan terbesar secara nominal sepanjang sejarah ataupun paling tidak berdasarkan data yang tersedia sejak kuartal I-2004.

Rekor sebelumnya terjadi pada kuartal II-2013 ketika defisit transaksi berjalan mencapai US$10,13 miliar. Besarnya tekanan juga terlihat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan masih berada di level US$3,58 miliar.

Dalam waktu tiga bulan, defisit membengkak sekitar US$8,91 miliar atau lebih dari tiga kali lipat. Penyebab utama membengkaknya defisit transaksi berjalan berasal dari menyusutnya surplus perdagangan barang.

Pada triwulan pertama tahun ini, neraca barang Indonesia masih mencatat surplus US$8,21 miliar. Namun, tiga bulan kemudian, surplus tersebut turun drastis menjadi hanya US$1,32 miliar. Penurunannya mencapai US$6,89 miliar atau sekitar 83,92%.

Penyusutan surplus neraca barang menyumbang sekitar 77,31% dari total pelebaran defisit transaksi berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pada kuartal II-2026, impor barang melonjak 23,87% menjadi US$72,11 miliar, dari sebelumnya US$58,21 miliar. Sebaliknya, ekspor hanya meningkat 10,54% menjadi US$73,43 miliar, dibandingkan US$66,42 miliar pada kuartal I-2026.

Kenaikan impor mencapai US$13,89 miliar, hampir dua kali lebih besar daripada tambahan ekspor yang sebesar US$7,00 miliar.

Defisit Melebar Ancaman Bagi Nilai Tukar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti membeberkan penyebab nilai tukar rupiah rentan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh posisi current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan.

Destry mengatakan posisi transaksi berjalan Indonesia selalu negatif kecuali pada era Covid-19. Posisi negatif ini ternyata memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah.

"Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, dimana pada saat itu economic activitynya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan," katanya.

Menurut Destry, transaksi berjalan akan terbantu jika ada arus masuk modal yang kuat yang sifatnya permanen atau jangka panjang. Kondisi ini, lanjut Destry, menjadi tantangan bagi Indonesia.

RI mencatat defisit neraca transaksi berjalan atau CAD sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, angka ini meningkat tajam sekitar 3,5 kali lipat dibandingkan kuartal I-2026 yang berada di level US$ 3,6 miliar atau 1% dari PDB.

Diketahui, lonjakan defisit dipicu oleh kenaikan impor migas akibat naiknya harga minyak dunia, serta surplus neraca perdagangan non-migas yang lebih rendah karena tingginya permintaan impor domestik.

Saat ini, nilai tukar rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.800-Rp18.000 per 1 dolar Amerika Serikat. Angka ini jauh dari proyeksi pergerakan rupiah pada asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500/1US$.

Merujuk data Refinitiv, pada sesi perdagangan Selasa (6/10/2026) rupiah ditutup di level Rp17.890/US$ atau menguat tipis 0,03% dibandingkan penutupan Senin (5/10/2026) di Rp17.895/US$.


(ras/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bank Dunia Kerek Naik Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,2%