Sukseskan BBM Bioetanol E20, Zulhas Bakal Tambah Kebun Tebu Cs
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan pemerintah akan menambah perkebunan baru untuk produksi etanol dalam negeri.
Perkebunan yang dimaksud seperti perkebunan tebu hingga singkong sebagai bahan baku pembuatan campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin tersebut.
Zulhas mengungkapkan rencana tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk mencapai campuran bensin dengan bioetanol sebanyak 20% (E20) tahun 2028 mendatang. Penambahan luas lahan tersebut dilakukan agar pemanfaatan bahan bakar nabati tidak mengganggu ketersediaan pasokan gula nasional.
"E20 itu ya antara lain bisa dari tebu, bisa dari singkong ya, bisa dengan yang lain. Ya kalau sekarang kan kurang kan? Jadi kalau kita mau tebu ya harus buka kebun baru ya," ujar Zulhas ditemui di sela acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Selain bioetanol, pemerintah saat ini telah menerapkan penggunaan bahan bakar nabati B50 serta mendorong transisi ke industri listrik terbarukan.
"Kita sudah B50 sekarang, Pak Bahlil dalam tempo lima tahun akan menuju E20, dan kita juga akan menuju industri listrik yang terbarukan," kata Zulhas dalam paparannya.
Siapkan Lahan 2 Juta Hektare
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto pada Rabu malam (16/9/2026) melakukan rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet terkait dengan implementasi program campuran bahan bakar nabati bioetanol 20% atau E20.
Program itu ditargetkan akan diimplementasi pada 2028 mendatang.
"Ratas dipimpin bapak presiden langsung kita membahas agar 2 tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20," kata Prabowo, usai rapat.
Dari rapat itu, menurut Zulhas mengatakan, presiden meminta Menteri Pertanian Andi Amran menyiapkan rencana penyediaan lahan untuk memproduksi bahan baku bioetanol. Sedangkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diminta untuk menyiapkan industri pengolahan.
"Danantara nanti industrinya ya, mengonversi Ethanol itu yang paling memungkinkan ternyata dari tebu, ya. Menyiapkan lahannya lebih kurang 2 juta hektar. Ada yang dari luar Jawa, ada yang dari Jawa, ada dari Sumatra, akan siapkan," kata Zulhas.
"Dalam 2 tahun kita harus bekerja keras melihat perkembangan dunia sekarang, kita harus mampu untuk menghasilkan E20. Itu, kira-kira itu intinya tadi," tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas pun tidak menampik bahwa penyediaan lahan untuk bahan baku etanol kerap menjadi kendala. Namun setelah dibahas dalam rapat bisa di diputuskan bahwa ada alokasi lahan yang bisa disediakan seluas 2 juta hektare di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Jawa untuk tanaman tebu.
"Untuk tahap pertama tadi itu 2 juta hektare, bottleneck-nya lahan, ya. Tapi setelah dipetakan, ditugaskan kepada BUMN dan Pak Mentan tadi dipetakan, kemungkinan kita akan dapat 2 juta itu," tuturnya.
Lebih lanjut, menurutnya kebijakan ini tidak hanya berhenti di E20, melainkan campuran etanol dalam bensin akan ditingkatkan hingga komposisi 50% atau (E50).
"E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50 seperti B50, tapi yang pertama ini E20. Jangka panjang akan menuju E50," tuturnya.
(wia)