Hashim Bantah Indonesia Kelam & Gelap, Ini Buktinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo membantah isu soal kondisi Indonesia di posisi kelam dan gelap atau yang saat ini beredar di masyarakat dengan slogan "Indonesia Gelap". Hashim mengatakan, buktinya pemerintah saat ini mencapai swasembada beras tiga tahun lebih cepat dari target semula serta stok beras pemerintah yang melimpah.
Hashim menilai bahwa Indonesia justru memiliki masa depan yang cerah. Menurutnya, narasi soal kondisi Tanah Air tersebut tidak relevan dengan fakta pertumbuhan ekonomi, demografi, serta kestabilan politik luar negeri Indonesia saat ini.
"Ada orang yang mengatakan Indonesia, beberapa orang bilang kalau lihat di media sosial, ada yang menyebut Indonesia berada dalam periode kemuraman, kegelapan, dengan istilah 'Indonesia Gelap'. Katanya Indonesia sedang menuju negara gagal, tetapi kehadiran Anda semua di sini secara langsung membantah hal tersebut, dan menurut saya Indonesia Terang," ujar Hashim.
Salah satu bukti dari capaian tersebut adalah keberhasilan pemerintah mencapai target swasembada beras pada tahun ini, atau tiga tahun lebih cepat dari target awal 2029. Capaian tersebut merupakan yang pertama kalinya bagi Indonesia dalam kurun waktu 42 tahun terakhir, dengan cadangan beras pemerintah di gudang mencapai 5,3 juta ton.
"Karena keberhasilan pemerintah dalam mencapai swasembada pangan, khususnya beras, Presiden Prabowo memiliki target swasembada beras pada 2029, tetapi kita telah mencapai target ini tiga tahun lebih cepat dari jadwal. Gudang-gudang kita penuh sesak dengan beras, stok beras pemerintah mencapai sekitar 5,3 juta ton dan terus bertambah," jelasnya.
Lompatan produksi beras tersebut didorong oleh kebijakan insentif pemerintah yang menaikkan harga pembelian beras dari petani sebesar 50% dari Rp 4.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. Pemerintah juga memotong biaya pupuk sebesar 20%, yang berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup 120 juta masyarakat di sektor pertanian.
"Karena insentif pemerintah kepada para petani, pemerintah telah menaikkan harga pembelian beras sebesar 50%, dari Rp 4.000 menjadi Rp 6.500, dan memotong biaya pupuk sebesar 20%. Petani Indonesia, 120 juta rakyat Indonesia yang hidup di sektor pertanian, taraf hidup mereka adalah yang terbaik dan tertinggi sejak tahun 1980-an," tambahnya.
Di samping ketahanan pangan, Hashim menyebutkan prospek "Indonesia Cerah" juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi, keunggulan demografi dan geografi, serta posisi politik luar negeri yang netral dan bebas dari konflik.
"Indonesia memiliki masa depan yang cerah karena banyak alasan: pertumbuhan ekonomi kita, demografi kita, geografi kita, fakta bahwa kita tidak terlibat dalam konflik apa pun, dan fakta bahwa kepala negara kita adalah sahabat dari setiap kepala pemerintahan di dunia," tegasnya.
(pgr/pgr)