Internasional

Perusahaan Jepang Berusia 100 Tahun Tumbang, 112 Bangkrut

sef, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 17:40 WIB
Foto: REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan-perusahaan Jepang yang telah bertahan selama lebih dari satu abad kini menghadapi ujian berat. Setelah melewati perang dunia, krisis ekonomi hingga gelembung aset, semakin banyak bisnis berusia tua di Jepang yang akhirnya tumbang pada 2026.

Data Teikoku Databank menunjukkan, kebangkrutan perusahaan Jepang yang telah berusia lebih dari 100 tahun mencapai rekor. Sebanyak 112 perusahaan dengan sejarah lebih dari satu abad tercatat bangkrut dalam delapan bulan pertama 2026.

Sejumlah faktor menjadi penyebab tekanan tersebut. Mulai dari kenaikan biaya, kekurangan tenaga kerja, menyusutnya pasar domestik hingga masalah regenerasi kepemimpinan perusahaan.


Salah satu contoh adalah Kadoya Sesame Mills, produsen minyak wijen yang didirikan pada 1858. Perusahaan tersebut telah melewati berbagai perubahan besar dalam sejarah Jepang, termasuk dua perang dunia dan gelembung aset.

Namun kini, setelah lebih dari dua dekade melantai di Jasdaq Securities Exchange, Kadoya bersiap kembali menjadi perusahaan privat melalui tender offer yang didukung perusahaan private equity Jepang Integral. Langkah tersebut dilakukan ketika perusahaan menghadapi kenaikan harga bahan baku dan meningkatnya risiko geopolitik.

Ekonom Shigeto Nagai dari Oxford Economics mengatakan perusahaan-perusahaan Jepang berusia panjang selama ini mampu bertahan karena memiliki orientasi jangka panjang, kepemilikan keluarga, hubungan kuat dengan komunitas lokal serta budaya bisnis yang berhati-hati. Umumnya, perusahaan-perusahaan tersebut juga memiliki neraca keuangan yang sehat dan margin keuntungan yang relatif stabil karena telah mengakumulasi modal selama puluhan tahun.

"Mereka semakin khawatir tidak dapat melihat masa depan dengan keuntungan tinggi yang berkelanjutan dalam jangka panjang dan takut perlahan-lahan mengalami kemunduran," kata Nagai menegaskan kondisi mulai berubah.

Sementara itu, kenaikan biaya dan menjadi salah satu tantangan terbesar perusahaan Jepang setelah pandemi. Belum lagi kekurangan tenaga kerja.

Harumi Taguchi, ekonom utama S&P Global Market Intelligence, mengatakan inflasi memang membuat perusahaan lebih mudah menaikkan harga dibandingkan era deflasi. Namun, banyak perusahaan masih tidak mampu sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.

Masalah tersebut terutama dirasakan perusahaan kecil yang fokus pada pasar domestik karena memiliki basis penjualan yang lebih terbatas. Data Teikoku Databank menunjukkan kebangkrutan yang berkaitan dengan kenaikan harga melonjak 23,8% menjadi 556 kasus pada paruh pertama 2026.

Sementara itu, kebangkrutan yang berkaitan dengan kekurangan tenaga kerja naik 12,4% menjadi 227 kasus pada periode yang sama. Produsen tahu Sube Shoten yang berdiri sejak 1877 pada era Meiji menjadi salah satu korban tekanan tersebut.

Perusahaan tersebut dilaporkan menghentikan operasional pada Mei. Sube Shoten mulai mempersiapkan pengajuan kebangkrutan setelah margin keuntungan tertekan dan biaya bahan baku melonjak.

Di saat yang sama, perusahaan Jepang juga menghadapi perubahan demografi. Angka kelahiran yang rendah dan populasi yang semakin menua membuat persaingan tenaga kerja semakin ketat.

Mencari pertumbuhan di luar negeri menjadi salah satu opsi. Tetapi ekspansi internasional bukan solusi yang mudah bagi perusahaan yang selama puluhan tahun bergantung pada pasar domestik Jepang.

Krisis Penerus Perusahaan

Selain biaya dan pasar yang menyusut, perusahaan-perusahaan tua Jepang menghadapi persoalan lain yang tidak kalah serius. Ini terkait siapa yang akan meneruskan bisnis tersebut.

Teikoku Databank mencatat kebangkrutan akibat tidak adanya penerus meningkat 16,9% menjadi 312 kasus pada paruh pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Persoalan ini sangat penting bagi perusahaan keluarga yang telah bertahan selama beberapa generasi.

Paul Aversano, managing director sekaligus global practice leader di Global Transaction Advisory Group Alvarez & Marsal, mengatakan pelemahan yen, reformasi tata kelola perusahaan, tekanan investor aktivis dan persoalan suksesi membuat pemilik serta dewan perusahaan harus mempertimbangkan kembali masa depan bisnis mereka. Tekanan tersebut datang bersamaan dengan inflasi, tarif, biaya tenaga kerja dan suku bunga.

"Ini adalah kombinasi berbagai faktor, bukan hanya satu masalah, yang membentuk keputusan," kata Aversano.

Bagi perusahaan Jepang yang telah bertahan selama lebih dari 100 tahun, tantangan terbesar kini bukan lagi sekadar bagaimana bertahan dari krisis ekonomi. Tetapi, bagaimana menemukan model bisnis yang tetap relevan di tengah populasi yang menyusut, biaya yang meningkat dan perubahan struktur ekonomi Jepang.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kemnaker Pakai Riset & Data Tentukan Upah - Lowongan Kerja