Ini Sosok Anak Mantan Presiden Ungguli Petahana & Bisa Menang Pilpres
Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Flavio Bolsonaro menjadi sorotan. Ini setelah senator berusia 45 tahun tersebut secara mengejutkan mengungguli Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva dalam hasil sementara putaran pertama Pemilihan Presiden Brasil 2026, akhir pekan ini.
Flavio merupakan putra sulung mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan menjadi kandidat dari Partai Liberal (PL). Ia maju dengan membawa warisan politik sang ayah untuk mengembalikan kekuatan kubu kanan ke pemerintahan Brasil.
Hingga sekitar 85% suara masuk, Flavio memperoleh 48,47% suara, sementara Lula mengantongi 43,49%. Tidak ada kandidat yang berhasil melewati ambang 50% sehingga pemilihan dipastikan berlanjut ke putaran kedua pada 25 Oktober.
Hasil tersebut menjadi kejutan karena sejumlah jajak pendapat sebelum pemungutan suara justru memproyeksikan Lula unggul sekitar tiga poin persentase atas Flavio.
Kemunculan Flavio sebagai pesaing serius Lula juga bukan sesuatu yang sejak awal diperkirakan. Ia memiliki rekam jejak politik sendiri, tetapi pernah menghadapi tuduhan korupsi dan gaya politiknya dinilai lebih moderat dibandingkan ayahnya yang dikenal sangat konfrontatif.
Meski sempat kesulitan mendapatkan dukungan dari sejumlah kelompok konservatif, Partai Liberal akhirnya tetap mengusung Flavio.
"Haruslah seorang Bolsonaro," kata Ketua Partai Liberal Valdemar Costa Neto.
Bagaimana Sosoknya?
Flavio telah menjadi anggota parlemen Brasil selama bertahun-tahun dan kini menjabat sebagai senator. Ia berusaha memanfaatkan popularitas nama Bolsonaro untuk mempertahankan basis pendukung sayap kanan yang dibangun ayahnya.
Jair Bolsonaro sendiri kini menjalani hukuman 27 tahun penjara terkait rencana kudeta yang gagal. Flavio secara terbuka membela ayahnya dan menggambarkan hukuman tersebut sebagai bentuk upaya menyingkirkan Jair Bolsonaro dari arena politik.
"Dia dipermalukan dan dihukum karena sistem tidak menginginkannya berada di ranah publik," ujar Flavio kepada Reuters pada Desember lalu.
Dalam pemungutan suara putaran pertama, Flavio mendapat dukungan kuat di sejumlah negara bagian di selatan Brasil yang selama ini menjadi basis politik Bolsonaro. Sebaliknya, penghitungan di wilayah timur laut yang merupakan basis kuat pendukung Lula berlangsung lebih lambat.
Sejumlah analis menilai sebagian dukungan kepada Flavio juga mencerminkan protest vote, yakni suara dari pemilih yang ingin menentang Lula, bukan semata-mata dukungan terhadap putra Bolsonaro tersebut.
Flavio sendiri berharap ketidakpuasan terhadap pemerintahan Lula dapat mengantarkannya meraih kemenangan bahkan sejak putaran pertama.
"Saya berharap itu cukup untuk memastikan kemenangan pada putaran pertama," kata Flavio.
Dekat dengan Trump
Pertarungan Flavio dan Lula juga tidak terlepas dari hubungan Brasil dengan Amerika Serikat (AS). Flavio berupaya membangun kembali hubungan politik keluarga Bolsonaro dengan Presiden AS Donald Trump.
Dengan bantuan saudaranya, Eduardo Bolsonaro, Flavio bertemu Trump pada akhir Mei. Trump bahkan memuji Flavio sebagai sosok yang "cerdas" dan mencintai Brasil.
Namun, kedekatan tersebut justru berpotensi menjadi beban politik. Pemerintahan Trump kemudian mengenakan tarif tinggi terhadap sejumlah produk Brasil.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan warga Brasil lebih banyak menyalahkan keluarga Bolsonaro dibandingkan Lula atas kebijakan tarif tersebut.
"Menurut saya, Presiden Trump sama sekali tidak membantu Flavio. Saya rasa hal itu justru lebih merugikan Flavio," ujar mantan Duta Besar AS untuk Brasil Thomas Shannon.
Jika Flavio berhasil menang, Brasil akan bergabung dengan sejumlah negara Amerika Latin yang dalam beberapa tahun terakhir memilih pemimpin sayap kanan yang memiliki hubungan politik dengan Trump.
Tersandung Skandal Dana Film
Perjalanan Flavio menuju kursi kepresidenan juga tidak sepenuhnya mulus. Pada Mei, pencalonannya sempat terguncang setelah terungkap adanya pendanaan untuk film biografi mengenai Jair Bolsonaro.
Dokumen kontrak mencatat transfer US$12 juta atau sekitar Rp213,6 miliar dari dana terkait bankir Daniel Vorcaro ke sebuah dana di AS yang dikelola pengacara yang mewakili Eduardo Bolsonaro.
Flavio kemudian mengakui bahwa Vorcaro memang mendanai film tersebut. Namun, ia membantah adanya pelanggaran dan menyebutnya sebagai sponsor pribadi tanpa syarat.
Pengungkapan tersebut sempat membuat elektabilitas Flavio merosot dan memicu penyelidikan Kepolisian Federal Brasil terkait dugaan korupsi, pencucian uang, serta pelarian modal ilegal.
Kasus tersebut berkaitan dengan Banco Master, bank yang telah berhenti beroperasi. Vorcaro, mantan pimpinan bank tersebut, ditangkap dan dituduh terlibat dalam skema penipuan bernilai miliaran dolar. Flavio membantah melakukan kesalahan dalam kasus tersebut.
Ekonomi Jadi Penentu
Kini, Flavio dan Lula harus bertarung langsung untuk merebut suara pemilih yang belum menentukan pilihan serta pendukung kandidat lain yang tersingkir pada putaran pertama. Persaingan tidak hanya akan ditentukan oleh identitas politik, tetapi juga persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat Brasil.
Meskipun ketimpangan dan pengangguran menurun, pemerintahan Lula masih menghadapi tekanan akibat tingginya biaya hidup, utang rumah tangga, serta kekhawatiran terhadap kejahatan dan aktivitas geng.
Flavio berusaha memanfaatkan persoalan tersebut untuk menarik pemilih. Ia menawarkan pemangkasan pajak dan penyesuaian fiskal agresif dengan tujuan menekan biaya pinjaman jangka panjang Brasil.
Namun, kondisi fiskal akan menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang memenangkan pemilu. Utang publik Brasil telah mencapai lebih dari 82% dari produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Brasil menjadi 2% tahun ini dan 2,3% tahun depan.
"Saya memilih Brasil agar mulai tumbuh kembali," kata Marciano de Souza e Silva, pegawai negeri berusia 52 tahun di Brasilia yang sebelumnya memilih Lula tetapi kini beralih mendukung kubu kanan.
Selain memilih presiden, masyarakat Brasil juga memilih 513 anggota majelis rendah dan dua pertiga anggota Senat. Komposisi parlemen tersebut akan menjadi faktor penting bagi presiden terpilih dalam menjalankan agenda pemerintahannya.
Kini, pertarungan memasuki babak baru. Lula berusaha mempertahankan kekuasaan, sementara Flavio Bolsonaro mencoba membuktikan bahwa nama besar ayahnya masih cukup kuat untuk membawa kubu kanan kembali menguasai Brasil.
"Saya memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk menaiki ramp Istana Planalto tahun depan bersama Presiden Jair Messias Bolsonaro, sehingga beliau dapat menyampirkan selempang kepresidenan di dada saya," kata Flavio.
(tfa/sef)