Jaga Inflasi, ESDM Tegaskan Harga BBM Subsidi Tidak Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam negeri tidak akan naik. Tidak lain hal tersebut demi menjaga stabilitas inflasi nasional dan menjaga daya beli masyarakat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan harga BBM subsidi sendiri sangat berdampak bagi masyarakat khususnya nelayan dan petani. Menurutnya, stabilnya harga BBM subsidi penting untuk mengendalikan inflasi di sektor energi.
"Jadi yang pertama tadi sudah saya sebutkan bahwa yang paling utama dari pengendalian inflasi dari BBM ini adalah menjaga agar BBM subsidi, solar dan bensin itu diharga tetap, tidak ada kenaikan. Kenapa? Karena ini adalah komponen terbesar yang juga dipakai oleh nelayan dan petani," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 Kemendagri, disiarkan daring, Senin (5/10/2026).
Pemerintah juga mengamankan pasokan minyak dengan 'berburu' atau hunting minyak secara langsung ke negara-negara yang memiliki stok. Hal itu mengingat bahwa sebanyak 25% kebutuhan minyak dalam negeri dipenuhi melalui impor.
Skema hunting tersebut merupakan skema baru yang dilakukan oleh pemerintah dari biasanya mengamankan stok minyak melalui lelang.
"Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok, kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa" paparnya.
Laode memastikan ketahanan stok BBM nasional hingga saat ini selalu terjaga aman di kisaran 18-20 hari.
"Jadi, ada dua hal ini, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada," imbuhnya.
Dia juga angkat suara soal antrean BBM di SPBU yang sempat terjadi di beberapa daerah. Hal ini murni disebabkan oleh hambatan distribusi akibat fenomena El Nino, seperti alur sungai yang mengering, dan bukan karena stok langka.
"Kondisi El Nino ini menyebabkan proses pengiriman dan distribusi yang contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," tandasnya.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]