Internasional

Putra Mantan Presiden Kini Ungguli Petahana, Bisa Menang Pilpres

sef, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 11:00 WIB
Foto: Calon presiden Brasil dari Partai Liberal (PL), Flavio Bolsonaro, memberikan hak suaranya di pemilihan umum di Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (4/10/2026). (REUTERS/Ricardo Moraes)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan presiden Brasil 2026 dipastikan berlanjut ke putaran kedua setelah calon presiden dari kubu kanan, Flavio Bolsonaro, belum mampu meraih suara mayoritas dalam pemungutan suara putaran pertama. Namun, Flavio Bolsonaro, senator berusia 45 tahun sekaligus putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, unggul atas Presiden Luiz Inacio Lula da Silva berdasarkan hasil sementara penghitungan suara.

Hingga sekitar 85% suara masuk, Flavio memperoleh 48,47% suara, sementara Lula mengantongi 43,49%. Seorang kandidat harus memperoleh lebih dari 50% suara untuk memenangkan pemilihan pada putaran pertama.


Lembaga jajak pendapat Brasil, Datafolha, kemudian memproyeksikan bahwa pemilihan akan berlanjut ke putaran kedua pada 25 Oktober. Hasil sementara tersebut menjadi kejutan karena sejumlah survei sebelum pemungutan suara justru memperkirakan Lula akan unggul sekitar tiga poin persentase atas Flavio pada putaran pertama.

Persaingan keduanya diperkirakan berlangsung ketat. Survei menjelang pemilu menunjukkan Lula dan Flavio memiliki tingkat dukungan yang relatif berimbang untuk putaran kedua.

Putra Bolsonaro Ingin Kembalikan Kubu Kanan

Flavio membawa nama besar keluarganya dalam pertarungan politik kali ini. Ia berupaya mengembalikan gerakan politik sayap kanan yang sebelumnya dipimpin ayahnya, Jair Bolsonaro, ke tampuk kekuasaan Brasil.

Hasil sementara menunjukkan Flavio mampu memperoleh dukungan kuat di sejumlah negara bagian di wilayah selatan Brasil yang selama ini cenderung mendukung Bolsonaro. Sementara itu, penghitungan suara di wilayah timur laut Brasil, yang merupakan basis kuat pendukung Lula, berlangsung lebih lambat.

Sejumlah analis menilai sebagian suara untuk Flavio merupakan bentuk "protest vote", yakni suara dari pemilih yang ingin menentang Lula, bukan semata-mata karena mereka mendukung putra Bolsonaro tersebut. Flavio sendiri mengaku berharap ketidakpuasan terhadap Lula cukup untuk membawanya memenangkan pemilu bahkan sejak putaran pertama.

"Saya berharap itu cukup untuk memastikan kemenangan pada putaran pertama," kata Flavio.

Trump Ikut Bayangi Pilpres Brasil

Pilpres Brasil kali ini juga dibayangi hubungan panas antara pemerintahan Lula dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump memang belum secara resmi mendukung salah satu kandidat namun pernah menerima Flavio Bolsonaro di Gedung Putih dan memberikan pujian secara terbuka kepada senator tersebut.

Jika Flavio menang, Brasil akan mengikuti tren kemenangan sejumlah kandidat sayap kanan di Amerika Latin yang memiliki kedekatan politik dengan Trump. Sebaliknya, kemenangan kembali Lula berpotensi menambah persoalan bagi Washington, di mana pemerintahannya sebelumnya berselisih dengan AS dalam sejumlah isu, termasuk perdagangan dan keamanan.

Lula dan para pendukungnya juga memperingatkan kemungkinan adanya campur tangan asing dalam pemilu Brasil. Namun, Ketua Mahkamah Pemilihan Brasil Kassio Nunes Marques mengatakan proses pemungutan suara berjalan normal dan tim pemantau risiko internasional tidak menemukan ancaman.

Ekonomi Jadi Pertarungan Berikutnya

Persaingan menuju putaran kedua tidak hanya akan ditentukan oleh isu politik, tetapi juga kondisi ekonomi Brasil. Meski ketimpangan dan tingkat pengangguran telah menurun, Lula masih menghadapi kesulitan meyakinkan pemilih yang dibebani biaya hidup tinggi, utang rumah tangga serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kejahatan dan aktivitas geng.

Flavio berusaha memanfaatkan persoalan biaya hidup tersebut untuk menarik pemilih. Sementara itu, pemerintahan Lula telah memperluas sejumlah program bantuan sosial dan menawarkan kebijakan keringanan utang bagi keluarga.

Namun, kondisi fiskal Brasil menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang memenangkan pemilu. Utang publik Brasil telah mencapai lebih dari 82% produk domestik bruto (PDB).

Pemerintah juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Brasil menjadi 2% tahun ini dan 2,3% tahun depan. Belum lagi kasus korupsi membayangi.

"Saya memilih Brasil agar mulai tumbuh kembali," kata Marciano de Souza e Silva, seorang pegawai negeri berusia 52 tahun di Brasilia yang sebelumnya merupakan pemilih Lula tetapi kini beralih mendukung kubu kanan.

Skandal Korupsi Membayangi

Pertarungan politik Brasil juga berlangsung di tengah skandal yang menyeret sejumlah tokoh politik dan lembaga negara. Kasus tersebut berkaitan dengan Banco Master, bank yang kini telah berhenti beroperasi.

Daniel Vorcaro, mantan pimpinan bank tersebut, ditangkap dan dituduh terlibat dalam skema penipuan bernilai miliaran dolar. Penyelidikan juga menelusuri hubungan Vorcaro dengan sejumlah tokoh penting, termasuk Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes dan Flavio Bolsonaro.

Flavio tengah diselidiki oleh kepolisian federal terkait dugaan pencucian uang dalam kasus tersebut. Ia membantah melakukan kesalahan.

Ia sebelumnya mengakui menerima dana jutaan dolar dari Vorcaro untuk membiayai film mengenai ayahnya. Kasus Banco Master turut memperuncing ketegangan politik Brasil menjelang pemilu dan meningkatkan kembali kemarahan publik terhadap isu korupsi.

Selain memilih presiden, masyarakat Brasil pada Minggu juga memilih seluruh 513 anggota majelis rendah dan dua pertiga anggota Senat. Komposisi parlemen tersebut akan menjadi faktor penting bagi presiden terpilih dalam menjalankan agenda pemerintahannya setelah pemilu.

Kini, pertarungan menuju 25 Oktober akan menjadi duel langsung antara Lula dan putra Bolsonaro. Keduanya akan berebut suara dari pemilih yang belum menentukan pilihan sekaligus pemilih kandidat-kandidat lain yang tersingkir pada putaran pertama.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI ingin Sukses Terapkan Bensin dari Tebu hingga Jagung