Mantan Menteri Pilih Jualan Beras di Glodok, Keluarga Tidak Tahu

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 03/10/2026 14:30 WIB
Foto: Menteri Agama ke-10 Republik Indonesia, K.H Saifuddin Zuhri. (Dok. nu.or.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah kehidupan para pejabat negara setelah tidak lagi menduduki jabatan pemerintahan kerap menarik perhatian publik. Ada mantan pejabat yang tetap menikmati kehidupan dengan berbagai fasilitas, tetapi ada pula yang memilih menjalani hidup sederhana dan bahkan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu kisah yang cukup dikenal dalam sejarah Indonesia adalah kehidupan mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri. Setelah meninggalkan kursi pemerintahan, ia dikenal tetap menjalani kehidupan sederhana. Bahkan, Saifuddin Zuhri disebut pernah berjualan beras di pasar tradisional.

Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama RI ke-10. Ia mulai menjabat setelah dilantik pada 2 Maret 1962 dan menjalankan tugas tersebut hingga 1967.


Setelah masa jabatannya sebagai menteri berakhir, Saifuddin Zuhri kembali aktif dalam dunia politik. Ia tercatat menjadi anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU).

Karier politiknya kemudian berlanjut hingga menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971. Meski pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan, kisah kehidupannya setelah tidak lagi menjadi menteri menjadi salah satu bagian yang menarik dari perjalanan hidupnya.

Dikutip dari buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), pada era 1980-an Saifuddin melakoni profesi baru sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Rutinitas itu dilakoninya hampir setiap hari.

Setiap pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut karung-karung beras menuju lapak dagangannya.

Kisah berdagang ini bahkan sempat disembunyikan rapat-rapat dari keluarganya. Istri dan anak-anaknya hanya tahu Saifuddin selalu pulang membawa uang, namun tidak pernah tahu dari mana sumber penghasilan tersebut.

Kedok sang mantan menteri akhirnya terbongkar ketika salah seorang putranya secara tidak sengaja memergokinya tengah melayani pembeli di Pasar Glodok.

Berdagang sejatinya bukan hal baru bagi Saifuddin. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia menceritakan bahwa pada 1942, saat anak pertamanya lahir, ia pernah menyambung hidup dengan menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang-mulai dari pakaian bekas, perabotan rumah tangga loak, hingga rokok.

Tolak Rumah Dinas dan Hibahkan Hunian Pribadi

Jiwa integritas dan kesederhanaan Saifuddin sebenarnya sudah mengakar kuat sejak ia masih menduduki kursi menteri. Bagi sosok yang juga ayah dari Menteri Agama era Kabinet Kerja, Lukman Hakim Saifuddin ini, jabatan menteri adalah amanah suci yang tidak boleh disalahgunakan untuk memperkaya diri.

Prinsip itu dibuktikan secara nyata lewat penolakannya terhadap fasilitas rumah dinas. Meski sah secara aturan dan didesak berkali-kali untuk menempati rumah dinas mewah, ia kukuh menolak dan memilih tinggal di rumah pribadinya.

"Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain... sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang," tegasnya kala itu.

Ia kemudian memilih mencicil rumah sendiri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi menjaga prinsip kemandirian. Hebatnya lagi, begitu cicilan rumah tersebut lunas, ia memilih untuk menghibahkannya secara cuma-cuma demi kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.

Jejak pengabdian Saifuddin Zuhri akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Puluhan tahun telah berlalu sejak ia melepas jabatannya, namun integritas tanpa kompromi dan kesederhanaan hakiki yang ia wariskan tetap abadi sebagai teladan mulia bagi para pejabat negeri ini.

 


(lih/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gus Ipul Bantah Aliran Dana Muktamar NU