MARKET DATA

Mantap! Siswi Kelas 12 Ini Sukses Berdayakan 126 Perajin & Jaga Gambut

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
02 October 2026 16:11
Kerajinan dari Tanaman  Purun
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di kawasan gambut Kalimantan Selatan, sebuah tanaman yang tumbuh alami di lahan basah justru menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat desa, tanaman itu adalah Purun (Lepironia articulata).

Purun merupakan tanaman lahan basah yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan anyaman. Namun, produk berbahan purun selama bertahun-tahun lebih banyak berada di segmen kerajinan tradisional dengan nilai tambah dan akses pasar yang terbatas.

Padahal, menjaga ekosistem tempat purun tumbuh tetap penting. Lahan gambut yang terjaga kelembapannya memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah dibandingkan gambut yang mengering. Karena itu, bagi masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem tersebut, menjaga lingkungan juga perlu berjalan berdampingan dengan tersedianya sumber penghasilan yang nyata.

Melihat peluang tersebut, Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, menginisiasi wirausaha sosial Gaia Weave. Ia mengembangkan purun menjadi produk fungsional modern, mulai dari tech organizer, document pouch, tas, hingga aksesori untuk kebutuhan perkotaan.

Bagi Alexandra, pelestarian lingkungan perlu berjalan berdampingan dengan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, Gaia Weave mengembangkan purun menjadi produk fungsional modern dengan desain, standardisasi mutu, dan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

"Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah dan engan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membangun insentif nyata agar masyarakat melihat nilai perlindungan dari ekosistem tempat tanaman ini tumbuh," tutur Alexandra dalam keterangan resmi, Jumat (2/10/2026).

Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS JakartaFoto: Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta

Pendekatan tersebut membuka akses pasar yang lebih luas bagi keterampilan lokal. Kini, Gaia Weave telah bermitra dengan 126 perajin perempuan di 15 desa di Kalimantan Selatan, dengan produk yang mencakup tech organizer, tas, aksesori, hingga merchandise korporasi.

Tidak tanggung-tanggung, dampak kemitraan tersebut terlihat pada pendapatan. Bagi sebagian besar perajin mitra Gaia Weave, pendapatan meningkat sekitar 100 hingga 150%, dari kisaran Rp1 juta-Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2,7 juta-Rp3 juta per bulan.

Salah satunya dirasakan Ibu Idang, yang sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40.000-Rp50.000 per hari. Kini, setelah bekerja di sawah, ia menganyam purun di rumah dan memperoleh tambahan sekitar Rp80.000-Rp100.000 per hari.

"Setelah pulang dari sawah, saya lanjutkan menganyam di rumah. Keterampilan yang sudah kami miliki sekarang menjadi tambahan penghasilan nyata, dan anyaman kami digunakan oleh banyak orang,"tutur Ibu Idang.

Bagi Gaia Weave, penciptaan nilai ekonomi dari purun menjadi salah satu cara membangun insentif bagi masyarakat untuk mempertahankan lanskap lahan basah tempat tanaman tersebut tumbuh. Apalagi, pendekatan ini menempatkan purun bukan sekadar sebagai bahan baku, tetapi sebagai penghubung antara ekonomi lokal dan perlindungan ekosistem.

"Ekonomi sirkular bukan hanya tentang menggunakan material yang ramah lingkungan atau terurai alami. Fondasi terpentingnya adalah memastikan orang-orang di sepanjang rantai pasok, terutama para perajin di desa, mendapatkan manfaat ekonomi yang adil,"tegas Alexandra.

Dengan demikian, Gaia Weave berupaya membangun model di mana peningkatan nilai produk berjalan seiring dengan peningkatan manfaat bagi masyarakat yang berada di sekitar lanskap lahan basah.

Pengalaman Alexandra dalam berbagai proyek keberlanjutan, termasuk riset pemetaan rumput laut bersama Birufinery di Nusa Tenggara Timur dan jaringan daur ulang EcoFunCycle, turut membentuk pendekatannya dalam mengembangkan Gaia Weave. Hingga 2030, Gaia Weave menargetkan jejaring lebih dari 1.000 perajin di Kalimantan Selatan, sekaligus memperluas pasar ekspor dan kemitraan dengan sektor perhotelan premium.

Perusahaan juga menyiapkan sistem ketertelusuran berbasis QR yang memungkinkan konsumen mengetahui asal material dan perjalanan produk. Pada akhirnya, Gaia Weave ingin menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan bersama. Ketika keterampilan lokal dan sumber daya lahan basah memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi, manfaatnya dapat kembali kepada masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Antam Ajak Wanita Ramai-Ramai Jaga Konservasi Laut


Most Popular
Features