Lagi, Fenomena Aneh di RI: Pabrik Rem Produksi-Barang Numpuk di Gudang

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 30/09/2026 17:45 WIB
Foto: Ilustrasi gudang pabrik. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri manufaktur di Tanah Air masih mengalami ekspansi. Ditandai dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan September 2026 yang berada di level 51,93.

Hanya saja, memang ada perlambatan, baik secara bulanan maupun tahunan. IKI bulan September 2026 melambat 0,37 poin dibanding IKI bulan Agustus 2026 yang sebesar 52,30. Juga melambat 1,09 poin dibanding IKI September 2025 yang sebesar 53,02.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 15 subsektor mengalami ekspansi dan delapan subsektor mengalami kontraksi. Subsektor yang ekspansi tersebut berkontribusi 84,4% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2026.


Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menjabarkan, dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Minuman (KBLI 11) dan Industri Alat Angkut Lainnya (KBLI 30).

Sedangkan, delapan subsektor yang mengalami kontraksi adalah:

- Industri Kulit, Barang Dari Kulit Dan Alas Kaki (KBLI 15)
- Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (Tidak termasuk Furnitur) dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16)
- Industri Kertas dan Barang dari Kertas (KBLI 17)
- Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman (KBLI 18)
- Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik (KBLI 22)
- Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26)
- Industri Peralatan Listrik (KBLI 27)
- Industri Mesin dan Perlengkapan yang tidak termasuk dalam lainnya (KBLI 28).

Dari hasil analisis terhadap variabel pembentu IKI bulan September 2026 tersebut diketahui, aspek pesanan baru mengalami percepatan.

"Nilai IKI variabel pesanan baru mengalami percepatan sebesar 0,27 poin atau mencapai 53,40. Sebaliknya, variabel produksi mengalami perlambatan sebesar 1,32 poin atau
mencapai 53,78. Selain itu, nilai IKI variabel persediaan produk mengalami penurunan sebesar 0,57 poin yang mengakibatkan variabel ini masih kontraksi sebesar 45,45," terangnya.

Sementara jika mengacu aspek orientasi pasar, IKI ekspor mengalami peningkatan.

"IKI Ekspor pada bulan September 2026 mencapai 52,60. Masih ekspansi meski melambat 0,49 poin dibanding bulan Agustus 2026 yang sebesar 53,09," ucapnya.

"Hal sama juga terjadi pada perusahaan industri berorientasi domestik. Di mana nilai IKI-nya mencapai 50,94. Masih ekspansi, juga mengalami perlambatan 0,19 poin dibanding bulan Agustus 2026 yang sebesar 51,13," papar Febri.

Industri manufaktur RI di bulan September 2026 dilaporkan masih ekspansi, sumber: bahan Kemenperin dalam konferensi pers Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Bulan September 2026, Rabu (29/9/2026). (Tangkapan Layar Ist) Foto: Industri manufkatur RI di bulan September 2026 dilaporkan masih ekspansi, sumber: bahan Kemenperin dalam konferensi pers Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Bulan September 2026, Rabu (29/9/2026). (Tangkapan Layar Ist)

Lalu, bagaimana pelaku usaha memandang kondisi usaha saat ini dan ke depan?

Dilaporkan, kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan September 2026 menurun 0,7 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebesar 77,9% responden menyampaikan kegiatan usahanya Membaik dan Stabil.

"Laju perkembangan industri pengolahan bulan ini melambat tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya, namun yang membaik masih lebih banyak," ucapnya.

Hanya saja, porsi industri yang menyatakan kondisi usahanya Membaik pada bulan September 2026 adalah sebanyak 33,0%. Angka ini turun 1,2% dibandingkan bulan lalu.
Sedangkan persentase responden yang menjawab kondisi usahanya Stabil sebesar 44,9%, naik 0,5%.

"Persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya Menurun di bulan September 2026 naik 0,8% menjadi 22,2%," kata dia.

Di sisi lain, sekitar 67,4% pelaku industri optimistis dengan kondisi usahanya dalam 6 bulan ke depan. Angka ini naik 0,8% dibandingkan tingkat optimisme sebulan sebelumnya.

Sementara, 26,9% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang. Angka ini turun 0,5% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya.

Dan, persentase pesimisme pandangan pelaku usaha terhadap kondisi usaha 6 bulan ke depan sebesar 5,8%. Angka ini turun 0,2% dibandingkan persentase bulan sebelumnya.

Dia pun menekankan kondisi optimisme pelaku usaha serta permintaan pasar yang melambat.

"Dari hasil itu, Kemenperin menyimpulkan, permintaan produk industri pada bulan September 2026, baik ekspor maupun domestik meningkat. Namun, produksinya cenderung sedikit menurun. Dan, terjadi peningkatan jumlah stok barang di gudang," kata Febri.

"Fenomena ini hampir sedikit sama dengan industri pada bulan Agustus 2026. Perbedaan pada produksi yang sedikit menurun," tambahnya.

Lantas apa penyebab IKI September 2026 menurun?

Menurut Febri, salah satunya disebabkan lonjakan biaya logistik, terutama dialami produk-produk berorientasi ekspor. Kondisi ini dipicu kenaikan harga BBM pengiriman logistik.

"Sehingga industri cenderung menahan pengiriman ke luar negeri, meski permintaan ekspornya masih tinggi. Dan produksi ekspornya masih ekspansif," bebernya.

Di saat bersamaan, sambung dia, Kemenperin mencatat adanya kecenderungan pelaku industri yang menunggu perkembangan kebijakan insentif dan kondisi pasar domestik.

"Kita tahu bahwa ada berbagai kebijakan yang ditunggu oleh industri, terkait kebijakan dan insentif di beberapa sektor. Sehingga, industri masih menahan sebagian produknya di gudang meski permintaan domestik itu masih tetap tinggi," ungkapnya.

"Dan industri juga sedikit mengurangi produksinya karena masih banyak stok di gudang," kata Febri.

kondisi perkembangan dunia usaha Indonesia, sumber: bahan Kemenperin dalam konferensi pers Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Bulan September 2026, Rabu (29/9/2026) (Ist) Foto: kondisi perkembangan dunia usaha Indonesia, sumber: bahan Kemenperin dalam konferensi pers Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Bulan September 2026, Rabu (29/9/2026) (Ist)


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pengusaha Minta Pemerintah Permudah Kredit ke Industri