Dunia Makin Kacau, Iran Siap "Perang Kiamat" dengan AS
Jakarta CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi "perang kiamat" dengan Amerika Serikat (AS). Meski begitu, ia mengatakan negaranya tetap tak "melewatkan peluang perdamaian".
Araghchi melontarkan komentar tersebut saat tampil di acara Meet the Press NBC News setelah Sidang Umum ke-81 PBB (UNGA) pekan lalu, sebagaimana dimuat CNBC International, Senin (28/9/2028). AS dan Iran terlibat dalam perang sejak 28 Februari, yang telah menyebabkan guncangan minyak dan gas global akibat penutupan Selat Hormuz, dan melonjaknya inflasi negara-negara dunia.
"Jika Anda bertanya kepada kami, tidak ada alasan mengapa kami harus kembali ke jalur diplomasi... namun saya masih mencoba diplomasi karena menurut saya kami tidak boleh melewatkan peluang perdamaian," kata Araghchi.
"Kami siap bernegosiasi sebanyak kami siap menghadapi tantangan apa pun... Kami berdiri teguh dalam menghadapi agresi apa pun terhadap kami, bahkan jika itu berujung pada doomsday war (perang kiamat) ," tegasnya.
Jumat, Araghchi telah mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari, jika pemerintahan Presiden AS Donald Trump menerima persyaratannya.
Persyaratan yang diajukan Teheran antara lain penghentian apa yang disebutnya sebagai "tindakan agresi" oleh AS, meminta diakhirinya blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
"Persyaratan kami jelas; setiap kemajuan menuju pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan persyaratan ini, dan kami tidak akan mundur," kata Araghchi dalam sebuah postingan di saluran Telegram-nya yang diterjemahkan oleh Google.
"Dalam pertemuan kami dengan para mediator, kondisi-kondisi ini telah disampaikan, dijelaskan, dan dijabarkan secara lengkap, dan para mediator, pada gilirannya, menyampaikannya ke pihak Amerika," ujarnya di sela-sela Majelis Umum PBB di New York.
Mengutip The Wall Street Journal, Trump sempat menolak usulan soal Selat Hormuz dan mengancam melanjutkan pemboman terhadap Teheran setelah pemilu paruh waktu AS yang memilih anggota Kongres pada November. Sementara itu, dalam wawancara terpisah di NBC News, Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz mengatakan bahwa tawaran terbaru Iran adalah "upaya sinis untuk membahas sesuatu".
"Presiden akan menyerahkan semua opsi untuk memastikan dunia aman dari Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklirnya," kata Waltz.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari Minggu mengklaim bahwa mereka menyita kapal selam otonom AS. IRGC pada juga mengklaim telah menangkap drone bawah air Amerika di Selat Hormuz.
"Pasukan Angkatan Laut IRGC berhasil menangkap kendaraan bawah air tak berawak (UUV) canggih milik tentara teroris AS," kata Kantor Berita Tasnim dalam postingan Telegram yang mengutip IRGC.
Mereka menggambarkan kendaraan tersebut sebagai kendaraan bawah air tak berawak Remus 600. IRGC menambahkan bahwa kendaraan tersebut telah diserahkan kepada spesialis pasukan untuk pemulihan data.
"Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup (untuk lalu lintas tidak sah)," katanya.
Perlu diketahui, para pemimpin militer Iran terus menggarisbawahi kesiapan mereka untuk melanjutkan perang.
"Perang belum berakhir," Kantor Berita Mahasiswa Iran mengutip pernyataan panglima militer Iran, Amir Hatami.
"Kita sudah menang, tapi kita harus mengkonsolidasikan kemenangan ini, dan musuh agresor yang mendapat pukulan berat harus terus bersiap menerima pukulan berat dari tentara Iran yang kita cintai," ujarnya.
(sef/sef)