Viral di Media Sosial Soal Megathrust, Begini Penjelasan Ahli
Jakarta, CNBC Indonesia - Isu mengenai potensi gempa megathrust kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik, ketika salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM Supartoyo mengatakan zona megathrust berpotensi menjadi sumber gempa bumi dengan kekuatan mencapai magnitudo 8 atau lebih.
"Jadi Megathrust itu sebenarnya merupakan suatu zona ya, tempat pertemuan antara dua lempeng yang berbeda jenis. Nah, dimana lempeng yang satu dia menunjang ke bawah lempeng yang lainnya. Nah, pertemuan pada bagian atas ini, dengan kedalaman kurang dari 50 kilo, itu disebut Megathrust," kata Supartoyo dikutip dari akun Instagram Badan Geologi, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, istilah megathrust sendiri berasal dari dua kata, yakni mega yang berarti besar dan thrust yang berarti patah naik. Dengan demikian, megathrust merupakan sumber gempa bumi yang mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih.
Supartoyo membeberkan isu mengenai megathrust sebenarnya bukan hal baru. Pembahasan mengenai potensi gempa megathrust telah berulang kali muncul sejak gempa bumi dan tsunami Aceh pada 2004.
"Saya ingat awalnya setelah gempa bumi dan tsunami Aceh 2004. Itu sejak tahun 2005 sampai sekarang, itu berulang-ulang dan selalu menimbulkan kepanikan. Jadi mungkin yang perlu adalah bahwa pemahaman, pengetahuan masyarakat berkaitan dengan Megathrust itu yang perlu ditingkatkan," katanya.
Berdasarkan peta geotektonik Indonesia, zona megathrust tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Di antaranya berada di sebelah barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Bali, Nusa Tenggara, bagian utara Sulawesi, timur laut Sulawesi, hingga timur laut Halmahera.
Wilayah-wilayah tersebut diketahui memiliki zona megathrust yang berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih. Beberapa kejadian gempa besar yang berkaitan dengan zona tersebut antara lain gempa Aceh pada 2004 dan gempa Nias pada 2005 yang berkekuatan magnitudo 8,5.
"Jadi wilayah-wilayah ini yang disinyalir memiliki zona Megathrust yang mampu menghasilkan kekuatan gempa bumi hingga mencapai kekuatan 8 atau lebih besar dari 8. Antara lain yang terjadi di Aceh tahun 2004, kemudian juga yang terjadi di Pulau Nias tahun 2005 itu kekuatannya 8,5," katanya.
Meski demikian, Supartoyo menegaskan bahwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara akurat, baik terkait kapan kejadian berlangsung, di mana lokasi tepatnya, maupun seberapa besar kekuatannya.
"Meskipun beberapa metode yang mengarah ke sana sedang dilakukan, namun hasilnya belum menggembirakan. Namun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rawan gempa bumi dan tsunami dan Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut sebagai kawasan rawan bencana gempa bumi atau disingkat KRBG dan kawasan rawan bencana tsunami," ujarnya.