Internasional

Iran Siap Perang "Kiamat" dengan AS Usai Proposal Ditolak, tapi...

luc, CNBC Indonesia
Senin, 28/09/2026 07:00 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengaku tetap membuka peluang diplomasi dengan Amerika Serikat (AS), meski pada saat yang sama bersiap menghadapi apa yang disebutnya sebagai perang "kiamat" jika konflik kedua negara kembali meningkat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap tersebut dalam wawancara dengan NBC News, Minggu (27/9/2026), setelah menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu.

Menurut Araghchi, Teheran tidak melihat alasan untuk kembali ke meja diplomasi. Namun, Iran tetap memilih menjaga jalur perundingan agar peluang tercapainya perdamaian tidak benar-benar tertutup.


"Jika Anda bertanya kepada kami, tidak ada alasan mengapa kami harus kembali ke diplomasi, tetapi saya masih mencoba diplomasi karena saya pikir kita tidak boleh melewatkan kesempatan apa pun untuk perdamaian," kata Araghchi.

"Kami siap berunding sebanyak kami siap menghadapi tantangan apapun ... Kami berdiri teguh menghadapi setiap agresi terhadap kami, bahkan jika itu sampai pada perang kiamat," lanjutnya.

Pernyataan tersebut muncul ketika konflik AS-Iran yang berlangsung secara naik-turun sejak 28 Februari telah mengguncang pasar energi global. Perang tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan memperbesar tekanan inflasi.

Pada Jumat, Araghchi sebelumnya mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sekaligus dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Washington dalam waktu tujuh hari. Namun, proposal tersebut disertai sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Trump kemudian menolak tawaran Iran tersebut. Proposal itu sebenarnya berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Wall Street Journal melaporkan Trump tidak hanya menolak kesepakatan tersebut, tetapi juga mengatakan dirinya memperkirakan serangan udara terhadap Teheran dapat kembali dilanjutkan setelah pemilu sela AS pada November mendatang.

Dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz menyebut tawaran terbaru Iran sebagai upaya yang tidak tulus.

"Ini adalah upaya sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka tahu tidak dapat diterima," kata Waltz.

"Presiden akan membiarkan semua opsi tetap terbuka untuk memastikan dunia aman dari Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklir," lanjutnya.

Meski proposalnya ditolak Trump, Iran tetap mempertahankan syarat yang diajukan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Araghchi menegaskan Teheran tidak akan mundur dari posisi tersebut.

"Persyaratan kami jelas; setiap kemajuan menuju pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan persyaratan tersebut, dan kami tidak akan mundur dari persyaratan itu," kata Araghchi dalam unggahan di kanal Telegram-nya.

Ia mengatakan seluruh persyaratan tersebut telah disampaikan kepada para mediator dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

"Selama pertemuan kami dengan para mediator, persyaratan ini telah disampaikan, dijelaskan, dan diuraikan sepenuhnya, dan para mediator kemudian menyampaikannya kepada pihak Amerika," ujarnya.

Araghchi juga mengatakan hingga kini mediator antara Washington dan Teheran belum menyampaikan jawaban resmi Trump kepada pemerintah Iran.

"Tidak ada solusi selain solusi yang dinegosiasikan untuk memecahkan kebuntuan ini," katanya.

Iran sebelumnya menyampaikan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan syarat tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Teheran sebagai "tindakan agresi" AS, diakhirinya blokade laut dan perang ekonomi, serta pembebasan aset-aset Iran.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Janji Buka Selat Hormuz jika AS Hentikan Tekanan Militer