Presiden Akhirnya Mengundurkan Diri Usai Didemo Berkali-kali
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengumumkan pengunduran dirinya pada Minggu (27/9/2026), tujuh bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Keputusan tersebut mengakhiri masa jabatan keduanya sekaligus membuka jalan bagi pemilihan presiden lebih awal.
Pengunduran diri Vucic berlangsung ketika Serbia tengah bersiap menghadapi pemilu parlemen yang dipercepat pada 25 Oktober. Langkah itu juga berpotensi membuka peluang bagi Vucic untuk kembali masuk pemerintahan sebagai perdana menteri jika Partai Progresif Serbia (SNS) yang dipimpinnya berhasil membentuk pemerintahan baru.
Vucic sebelumnya telah menyampaikan pada akhir Juni bahwa dirinya berencana mundur dan Serbia akan menggelar pemilihan parlemen serta presiden lebih awal.
Keputusan tersebut terjadi di tengah tuduhan kelompok-kelompok hak asasi manusia yang menilai pemerintahan Vucic dan para sekutunya semakin otoriter. Demonstran antipemerintah juga mengaku dipukuli polisi dan ditahan secara tidak adil. Pemerintah Serbia membantah tuduhan tersebut.
Pada Minggu, ratusan pendukung Vucic berkumpul di depan gedung Kepresidenan di pusat Kota Beograd untuk memberikan dukungan kepadanya.
"Ini adalah malam terakhir saya di gedung ini," kata Vucic kepada massa yang mengibarkan bendera beberapa menit sebelum secara resmi mengundurkan diri, dilansir Reuters.
"Saya telah melayani Anda dan tanah air saya, Serbia, dengan setia, ... Saya bangga dengan apa yang telah kita lakukan bersama," ujarnya.
Berdasarkan konstitusi Serbia, Ketua Parlemen Ana Brnabic akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga presiden baru terpilih. Pemilihan presiden harus diselesaikan dalam waktu 90 hari, sementara masa kampanye berlangsung antara 30 hingga 60 hari.
"Pada akhir Desember ... kita akan memiliki putaran pertama pemilihan presiden," kata Vucic.
Pemilu Uji Kekuatan Vucic
Pemilu parlemen yang akan digelar bulan depan akan mempertemukan SNS dan partai-partai sekutunya dengan Students Win, gerakan antikorupsi yang dipimpin mahasiswa, serta European Serbia, koalisi partai-partai oposisi yang pro-Barat.
Hingga kini, Students Win, European Serbia, dan sejumlah partai lainnya belum menentukan kandidat yang akan mereka usung dalam pemilihan presiden.
Vucic, 56 tahun, telah menjadi salah satu tokoh paling dominan dalam politik Serbia selama lebih dari satu dekade.
Karier politiknya dimulai sebagai nasionalis garis keras dan menteri informasi pada era mendiang Slobodan Milosevic ketika Serbia dilanda perang pada 1990-an. Setelah itu, Vucic menjabat sebagai wakil perdana menteri pada 2012-2014 dan perdana menteri pada 2014-2017.
Pada 2017, ia beralih ke posisi presiden yang sebagian besar bersifat seremonial. Meski demikian, Vucic tetap mempertahankan kendali kuat atas partainya maupun pemerintahan.
Dalam kebijakan luar negeri, Vucic menjalankan pendekatan yang berusaha menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan. Serbia mempererat hubungan dengan China yang merupakan investor besar, sekaligus mempertahankan hubungan dengan Rusia sebagai pemasok utama gas alam. Di sisi lain, Serbia tetap mempertahankan target jangka panjang untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE).
Vucic juga berupaya memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Masa pemerintahan Vucic mendapat pukulan besar pada November 2024 ketika kanopi sebuah stasiun kereta yang baru direnovasi di Kota Novi Sad, Serbia utara, runtuh dan menewaskan 16 orang.
Tragedi tersebut kemudian memicu gelombang demonstrasi nasional yang digerakkan mahasiswa dan kelompok oposisi. Mereka menuntut pertanggungjawaban pihak yang dianggap bertanggung jawab, transparansi dalam pengadaan pemerintah, penghentian korupsi sistemik, serta digelarnya pemilu parlemen lebih awal.
Pemerintah berulang kali membantah tuduhan yang disampaikan para demonstran. Namun, sejumlah pejabat, termasuk dua menteri, ditangkap atau mengundurkan diri setelah insiden tersebut.
Dalam pengumuman pengunduran dirinya pada Minggu, Vucic juga mengatakan telah memberikan amnesti dan pengampunan kepada 49 orang yang ditangkap atau menjalani proses hukum terkait aksi demonstrasi. Mereka termasuk 12 aktivis dan 11 pendukung Vucic sendiri.
(luc/luc)