Internasional

Tak Takut Sanksi AS, Malaysia-Vietnam-China Tetap Terima Maskapai Iran

Redaksi, CNBC Indonesia
Minggu, 27/09/2026 10:40 WIB
Foto: Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran mulai kembali melayani sejumlah penerbangan internasional pada Sabtu (24/4/2026). (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sanksi ekonomi bertubi-tubi yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran mulai menimbulkan dampak nyata pada sektor transportasi udara. Kendati demikian, di tengah meluasnya gangguan operasional penerbangan sipil Iran, otoritas Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran memastikan bahwa penerbangan ke sejumlah negara sahabat masih beroperasi normal.

Dikutip dari Shafaq, Minggu (27/9/2026), pihak pengelola bandara menyatakan bahwa rute penerbangan menuju Turki, Malaysia, China, Pakistan, Vietnam, dan Afghanistan sejauh ini tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Namun, otoritas tidak menampik adanya gelombang pembatalan rute lain akibat tekanan sanksi AS. Rute penerbangan yang sebelumnya telah ditangguhkan meliputi Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Oman, dan Georgia. Pihak bandara menegaskan bahwa mereka terus berupaya maksimal untuk memulihkan rute-rute yang lumpuh tersebut sesegera mungkin.


Imbas Sanksi Sektor Penerbangan

Kelumpuhan sebagian rute penerbangan ini merupakan buntut dari sanksi tegas yang dijatuhkan oleh Departemen Keuangan AS pada 8 September lalu. Washington menargetkan 36 entitas yang terafiliasi dengan sektor penerbangan Iran, yang mencakup hingga 27 maskapai penerbangan komersial asal negeri para mullah tersebut.

Dampak dari sanksi ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri Iran, tetapi juga merembet ke negara tetangga. Di Irak, Bandara Internasional Najaf secara resmi mengumumkan penangguhan total seluruh penerbangan dari dan menuju Iran terhitung mulai Jumat (25/9/2026) pukul 02.00 dini hari waktu setempat, menyusul instruksi resmi pemerintah.

Irak Lobi Washington

Menyadari lumpuhnya penerbangan berdampak besar pada mobilitas warga sipil, pemerintah Irak bergerak cepat. Pada hari Sabtu (26/9/2026), Baghdad menyatakan tengah melangsungkan negosiasi langsung dengan pihak Washington.

Langkah diplomasi ini bertujuan untuk mengamankan pengecualian (exemption) khusus bagi sejumlah bandara di Irak dari aturan sanksi AS yang menyasar maskapai Iran. Irak berharap pelonggaran ini dapat segera memulihkan kembali jalur penerbangan sipil yang krusial untuk keperluan pengobatan medis, pendidikan, kunjungan ziarah keagamaan, serta mobilitas esensial lainnya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Menunggu Persetujuan RI, Malaysia Mau Bantu Atasi Karhutla