Motor Listrik RI dengan TKDN 75% Ini Ternyata Belum Masuk Molinas
Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen motor listrik Savart Motors mengungkap capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk terbarunya yang telah menembus 75%. CEO Savart Motors William Ekaputra Taifan TKDN itu pada model terbaru yang menyasar segmen menengah. Sebelumnya, Savart juga telah mencatat TKDN tinggi pada model yang lebih premium.
"Jadi TKDN kita yang pertama, jenis pertama yang kita launching tahun 2023 itu kan yang kelas premium, itu kita sudah mencapai TKDN 74,27%. Nah, ini barusan kita masuk yang lebih ke middle segment ini ke 75,03%. Jadi kita TKDN memang paling tinggi," kata William kepada CNBC Indonesia, Sabtu (26/9/2026).
Karenanya Ia pun menyambut dengan terbuka jika pemerintah mengajaknya masuk ke dalam ekosistem motor listrik (nasional), program yang tengah dijalankan pemerintah saat ini.
"Dengan TKDN paling tinggi, kalau masuk didefinisikan dan bisa disebut sebagai motor listrik nasional mungkin bisa aja, kita pasti menyambut baik jika masuk ke dalam Molinas ini, meski sejauh ini belum ada pembicaraan khusus ke arah sana," kata William.
Savart Motors mengungkap strategi perusahaan dalam membangun rantai produksi baterai motor listrik di Indonesia. Perusahaan telah memproduksi battery pack secara mandiri sejak 2023, meski komponen battery cell masih berasal dari China.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan nilai tambah produksi di dalam negeri. Proses perakitan dan pengolahan battery pack dilakukan di fasilitas perusahaan.
"Battery pack saya memang produksi sendiri sejak tahun 2023. Cuman battery cell-nya kan pasti dari China battery cell-nya," kata William.
Produksi battery pack membuat sebagian aktivitas manufaktur tetap berada di Indonesia. Perusahaan tidak hanya mendatangkan baterai dalam bentuk produk jadi untuk kemudian dipasang ke kendaraan.
Proses lokal tersebut memberikan nilai ekonomi tambahan bagi produk. Semakin banyak tahapan yang dilakukan di Indonesia, semakin besar pula aktivitas manufaktur yang tercipta di dalam negeri. Perbedaan nilai tersebut cukup signifikan jika dilihat dari struktur biaya. Proses dari battery cell menjadi battery pack menciptakan tambahan nilai yang menurut perusahaan cukup besar.
"Cuman packing-nya semua value addition-nya kan hampir dua kali lipat kalau kita ngomong cost ya dari battery cell ke battery pack value added-nya kan hampir dua kali lipat gitu," kata Chief Operating Officer (COO) Savart Garry Surya Putra Taifan kepada CNBC Indonesia, Jumat (18/9/2026).
Produksi battery pack juga membutuhkan kemampuan teknis tersendiri. Savart sebelumnya menyebut perusahaan mengembangkan teknologi inti kendaraan secara internal dan terus memperbaruinya setelah produk pertama berhasil dikembangkan.
Strategi tersebut membuat perusahaan tetap memiliki ketergantungan pada rantai pasok global, khususnya untuk komponen tertentu. Namun, sebagian proses manufaktur dan nilai tambah tetap ditempatkan di dalam negeri.
"Jadi kan kita menyerap tenaga kerja dan upgrading dari skill bukan hanya di low-tech manufacturing tapi juga ke arah high-tech advanced manufacturing gitu. Jadi sebenarnya kalau kita ngomong kan kita kontribusi kita itu bukan hanya dari unit saja Pak, tapi dari multiplier effect dari apa yang along the way yang kita kerek naik gitu loh," kata William.
(fys/wur)