Butuh Rp 3,86 T, Pagu Anggaran Basarnas 2027 Cuma Diketok Rp 1,56 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih menghadapi kekurangan anggaran yang cukup besar untuk menjalankan tugas pencarian dan pertolongan pada 2027. Dari kebutuhan yang diajukan sebesar Rp3,86 triliun, Basarnas baru mendapatkan pagu anggaran Rp1,56 triliun.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan pagu tersebut memang mengalami kenaikan Rp313,5 miliar dibandingkan alokasi sebelumnya. Namun, tambahan tersebut belum mampu menutup seluruh kebutuhan lembaga, terutama untuk pengelolaan sarana dan prasarana pencarian dan pertolongan.
"Bila dibandingkan dengan pagu anggaran yang dialokasikan sebesar Rp1,56 triliun, maka masih terdapat backlog anggaran sebesar Rp2,29 triliun. Backlog terbesar terdapat pada pengelolaan sarana dan prasarana SAR sebesar Rp1,31 triliun," ujar Syafii dalam Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Untuk belanja modal, Basarnas hanya mengalokasikan Rp55,3 miliar pada 2027. Dana tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli peralatan high angle rescue, mountaineering, under water rescue, peralatan IEC-INASAR dan NAP-INASAR, serta sistem komunikasi.
Selain peralatan operasi, anggaran tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana Kantor SAR baru di Surakarta dan Banyuwangi. Kebutuhan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas Basarnas dalam merespons keadaan darurat di berbagai daerah.
Di luar pagu yang telah ditetapkan, Basarnas telah mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp2,16 triliun kepada Kementerian Keuangan dan Bappenas. Dari usulan tambahan itu, sekitar Rp135,37 miliar dialokasikan untuk belanja pegawai, termasuk kebutuhan penambahan CPNS dan CPPPK. Kemudian Rp213,57 miliar untuk mendukung operasional tugas dan fungsi Basarnas, serta Rp1,48 triliun untuk operasional non-prioritas nasional.
Basarnas juga mengusulkan Rp5,10 miliar untuk pemulihan pascabencana banjir di Sumatra. Selain itu, terdapat kebutuhan Rp2,17 miliar untuk Kantor SAR baru di Surakarta dan Banyuwangi, serta sejumlah kebutuhan operasional SAR dan dukungan manajemen lainnya.
Artinya lembaga ini tidak hanya menangani kecelakaan atau bencana yang sudah terjadi, tetapi juga harus memastikan kesiapan personel, peralatan, komunikasi, hingga fasilitas operasi SAR di berbagai wilayah.
"Kontribusi Basarnas tidak hanya berada pada aspek penyelamatan jiwa, namun juga pada penciptaan rasa aman bagi mobilitas masyarakat, aktivitas investasi, kawasan industri, destinasi pariwisata prioritas, dan rantai logistik nasional," ujar Syafii.
(fys/wur)