Internasional

Delegasi AS-Iran Bertemu, Trump Beri Ultimatum Keras Lenyapkan Teheran

tps, CNBC Indonesia
Rabu, 23/09/2026 06:10 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, di New York City, New York, AS, 23 September 2025. (REUTERS/Alexander Drago)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat Amerika Serikat (AS) telah menggelar pertemuan krusial selama tiga jam dengan para mediator Iran. Pertemuan itu dilakukan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, Selasa.

Mengutip Reuters, Rabu (23/09/2026), Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada wartawan bahwa pertemuan itu berjalan dengan "sangat baik". Ia kemudian mengklarifikasi bahwa utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sejatinya bertemu dengan para mediator, bukan dengan pejabat Iran secara langsung.

"Steve dan Jared melakukan pertemuan yang sangat produktif hari ini dengan para mediator Iran, hanya mediator," paparnya.


Meski telah ada jalinan komunikasi antar keduanya, Trump menggunakan pidato utamanya di Sidang Majelis Umum PBB untuk membela perangnya. Ia berargumen telah mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir dan mendesak sekutu global mengisolasi Teheran secara ekonomi. Ia turut meramalkan bahwa kesepakatan damai baru akan tercapai usai pemilihan paruh waktu AS pada 3 November mendatang.

"Saya memiliki keputusan besar untuk dibuat. Apakah akan ada kesepakatan dengan Iran yang membiarkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat dari sebelumnya?" tuturnya.

"Atau apakah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tidak pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang-orang dan negara-negara lagi?"

Menanggapi pandangan para analis yang menilai bahwa pengambilalihan Kongres oleh Partai Demokrat pada pemilihan paruh waktu dapat melemahkan posisinya dalam konflik, Trump menepis keras kekhawatiran tersebut dan menegaskan bahwa pemilu tidak akan membatasinya.

"Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa saya tidak mencalonkan diri," tegas Trump merujuk pada para pemimpin di Teheran.

"Saya sudah melakukannya, dan menang telak. Kami menang telak, dan saya akan berada di sini selama dua setengah tahun lagi."

Kecam ICC dan Isu Negara Tetangga

Pidato keras Trump di PBB ini muncul kurang dari sepekan setelah misi pencari fakta PBB menyatakan adanya alasan kuat untuk meyakini bahwa pasukan AS telah melakukan kejahatan perang dalam dua serangan di Iran. Salah satu serangan mematikan tersebut diketahui menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab.

Merespons tekanan itu, Trump justru memperbarui kritiknya terhadap Pengadilan Pidana Internasional (ICC) dan memastikan pasukannya kebal hukum. Di luar markas PBB, puluhan demonstran anti-pemerintah Iran juga tampak berkumpul menuntut demokrasi.

"Kami tidak akan pernah membiarkan anggota militer AS atau siapa pun diselidiki atau diadili secara tidak adil oleh pengadilan anti-Amerika yang tidak memiliki yurisdiksi atas kami," ungkapnya.

Di kawasan tetangga, Trump melabeli Meksiko sebagai "pusat kekerasan kartel" dan mendesak pemerintahnya merebut kembali kendali negara. Ia juga mengumumkan upayanya mengejar perubahan mendasar di Kuba, yang langsung memicu delegasi Kuba berjalan keluar (walk out) dari ruang sidang sebagai bentuk protes.

"Itu adalah negara yang benar-benar gagal, gagal seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan itu akan jatuh," ucapnya.

"Tindakan kami di Venezuela adalah bukti bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi mengizinkan ancaman terhadap Amerika untuk mendapatkan pijakan di mana pun di Belahan Bumi Barat."

Meski penampilannya dinilai tak sedramatis tahun 2025, Trump tetap menyentil birokrasi PBB. Terkait isu kecerdasan buatan (AI) jelang pertemuan Dewan Keamanan PBB, ia menegaskan tidak akan menghambat pertumbuhan teknologi yang menurutnya akan lebih besar dari Revolusi Industri tersebut.

Pidato ini sekaligus mengawali rentetan diplomasi tingkat tinggi Trump. Ia telah melangsungkan pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Inggris Andy Burnham yang ia puji sebagai pebisnis alami untuk membahas perdagangan hingga konflik Ukraina.

Trump juga bertemu PM Jepang Sanae Takaichi guna menegaskan kekuatan aliansi AS-Jepang di Asia, serta berdiskusi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait solusi mengakhiri serangan Rusia, sebelum dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Washington pada akhir pekan ini.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump TV Meluncur, Gedung Putih Vs Media AS Memanas