Digagalkan DJBC, 15 Kontainer Beras & Garam Ilegal Berasal dari India
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan melakukan penindakan terhadap 15 kontainer yang berisi beras dan garam ilegal. Asal barang ternyata dari India.
Penindakan itu bermula dari pengajuan pemberitahuan impor barang oleh PT TI, yang diduga kuat terdapat
ketidaksesuaian.
Barang dalam kontainer yang dilaporkan merupakan ammonium chloride, dengan berat total 413 ton dan masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 19 Agustus 2026.
"Ammonium chloride dari India sebanyak 8250 bag dengan berat total 413.406 kilogram dalam 15 kontainer," kata Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I Rusman Hadi saat konferensi pers, Selasa (22/9/2026).
Namun, dari hasil laporan intelijen, pemeriksaan fisik dan pengujian oleh petugas Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Jawa Timur I dan Bea Cukai Tanjung Perak dilakukan pada Laboratorium Bea Cukai Surabaya.
Hasil pengujian menunjukkan terdapat 202.450 kg beras dan 211.000 kg garam dengan perkiraan nilai barang mencapai Rp7,85 miliar.
Dengan demikian, terdapat ketidaksesuaian material antara pemberitahuan barang dengan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium. Saat ini, kasus sedang dalam penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pengembangan informasi dari penindakan di Tanjung Perak, DJBC kembali melakukan penindakan terhadap pengiriman sejenis yang diduga menggunakan modus yang sama di Bogor pada 7 September 2026.
Ada dugaan ketidaksesuaian barang yang diimpor PT ILW. Barang yang berasal dari India tersebut diberitahukan sebagai salt-chemical used for leather tanning purposes (low grade) sebanyak 420.000 kg yang dikemas dalam 15 kontainer.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai, bersinergi dengan Kanwil Bea Cukai Jawa Barat dan Bea Cukai Bogor melakukan pengawasan terhadap pembongkaran barang.
Dari hasil pemeriksaan fisik, petugas mendapatkan 194.900 kg beras dan 225.400 kg diduga garam dengan nilai keseluruhan diperkirakan mencapai Rp8,006 miliar.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]