Kapal Tongkang Bocor-Miring di Laut Jawa, Ratusan Muatan Berjatuhan

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 22/09/2026 15:10 WIB
Foto: (Dok. Google Maps)

Jakarta, CNBC Indonesia - Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah VIII Surabaya bersama jajaran Balai Penegakan Hukum Kehutanan (Gakkumhut) Jabalnusra tengah menelusuri asal usul 697 batang kayu log yang diangkut Tongkang Lintas Samudera XXIII. Termasuk kelengkapan dokumen angkutan hasil hutan, serta penanganan kayu yang hanyut tersebut.

Ratusan log kayu itu dilaporkan jatuh ke laut dan hanyut menuju wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Insiden itu terjadi setelah tongkang yang ditarik Tugboat (TB.) Yamdena 03 mengalami kebocoran dan kemiringan akibat kondisi cuaca buruk.

Mengutip keterangan resmi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), tongkang Lintas Samudera XXIII mengangkut 697 batang kayu log dengan total volume 4.547,66 meter kubik (m³). Muatan tersebut berasal dari dua lokasi di provinsi Kalimantan Timur dan diangkut menuju log pond industri kayu Perizinan Berusaha Pengolahan Hasil Hutan (PBPHH) PT Kutai Timber Indonesia (KTI) di Probolinggo, Jawa Timur.


"Muatan diberangkatkan dari log pond antara Merandai, Perairan Sungai Mahakam, Desa Merandai, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, serta TPK Antara 3 Sungai Berau, Kampung Samburakat, Kabupaten Berau," tulis Kemenhut, Selasa (22/9/2026).

Berdasarkan dokumen angkutan hasil hutan yang membersamai muatan, kayu log jenis kelompok Meranti tersebut berasal dari dua sumber.

Pertama, Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Karya Lestari sebanyak 400 batang dengan volume 2.922,11 m³ berdasarkan SKSHHKB Nomor KB.C.7547894.

Kedua, PBPH PT. Utama Damai Indah Timber sebanyak 297 batang dengan volume 1.625,55 m³ berdasarkan SKSHHKB Nomor KB.C.7610904.

"Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan yang ditelusuri dalam proses pemeriksaan dan koordinasi yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama pihak terkait," jelas Kemenhut.

Kronologi Insiden Kapal Tongkang Miring

Kemenhut mengungkapkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) memuat kronologi kejadian kebocoran yang dialami kapal tongkang. Dalam BAP oleh Nahkoda TB. Yamdena 03-Tongkang Lintas Samudera XXIII Rizal Daeng Tupu, tongkang dinyatakan layak berlayar dan mulai melakukan perjalanan sejak Sabtu (5/9/2026).

"Dalam perjalanan di wilayah Laut Jawa bagian tenggara, tongkang menghadapi kondisi cuaca buruk dan mengalami kebocoran. Kondisi tersebut menyebabkan tongkang mulai mengalami kemiringan pada lambung kiri," demikian sebagaimana dikutip Kemenhut.

Pada Selasa, 15 September 2026, kemiringan tongkang semakin signifikan dan sebagian muatan kayu log mulai jatuh ke laut.

Lalu pada hari Jumat, 18 September 2026, karena kondisi cuaca yang masih belum bersahabat, tongkang berlabuh di sebelah barat Pulau Giliyang pada koordinat Lintang 07°01'514" dan Bujur 114°07'608".

"Pada Sabtu, 19 September 2026, nahkoda melakukan pengurasan air yang masuk ke lambung kiri tongkang. Dalam proses tersebut, sebagian muatan kayu log yang berada di atas tongkang kembali jatuh ke laut," papar Kemenhut.

"Kayu log yang jatuh ke laut kemudian hanyut menuju wilayah Teluk Pantai Perkampungan Romben/Dungkek dan Andulang di sekitar Pulau Madura," tambah Kemenhut.

Dikatakan, Kemenhut melalui BPHL Wilayah VIII Surabaya bersama Balai Gakkum Kehutanan Jabalnusra telah melakukan peninjauan lapangan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Peninjauan dilakukan untuk memperoleh informasi dan fakta secara lebih rinci mengenai asal-usul kayu, dokumen angkutan hasil hutan yang membersamai muatan, kondisi kayu, kronologi kejadian, serta langkah penanganan yang akan dilakukan terhadap kayu yang jatuh dan hanyut ke laut.

"Langkah tersebut juga bagian dari upaya Kementerian Kehutanan dalam memastikan implementasi ketentuan pengelolaan hasil hutan berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegas Kemehut.

Proses penanganan kejadian ini dilakukan lewat koordinasi antarinstansi pemerintah, termasuk ke tingkat pemerintah Kabupaten Sumenep.

Menurut Kemenhut, untuk penanganan selanjutnya, PT Kutai Timber Indonesia (KTI) bersama pemilik kapal berencana melakukan upaya penarikan kembali kayu log yang hanyut ke tengah laut.

"Kayu yang berhasil dikumpulkan selanjutnya akan dinaikkan ke tongkang pengganti untuk kemudian diangkut menuju PT Kutai Timber Indonesia (KTI) di Probolinggo, Jawa Timur," jelas Kemenhut.

"Kementerian Kehutanan bersama pemangku kepentingan terkait akan terus memantau perkembangan penanganan di lapangan, termasuk proses penelusuran asal-usul dan dokumen angkutan hasil hutan serta upaya pengumpulan kembali kayu log yang hanyut. Untuk memastikan penanganan kejadian berjalan secara tertib, aman, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan hasil hutan," tegas Kemenhut.

Sebanyak 697 batang kayu log yang diangkut Tongkang Lintas Samudera XXIII dilaporkan jatuh ke laut dan hanyut menuju wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, setelah tongkang yang ditarik Tugboat (TB.) Yamdena 03 mengalami kebocoran dan kemiringan akibat kondisi cuaca buruk. (Dok. Kementerian Kehutanan) Foto: Sebanyak 697 batang kayu log yang diangkut Tongkang Lintas Samudera XXIII dilaporkan jatuh ke laut dan hanyut menuju wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, setelah tongkang yang ditarik Tugboat (TB.) Yamdena 03 mengalami kebocoran dan kemiringan akibat kondisi cuaca buruk. (Dok. Kementerian Kehutanan)


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kemenhub Update Penanganan Kecelakaan KMP Virgo Transport 8