Internasional

Perang Makin Panas! Drone Houthi Bombardir 'Jantung' Vital Arab Saudi

tps, CNBC Indonesia
Senin, 21/09/2026 06:10 WIB
Foto: Kelompok Houthi di Yaman merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan lokasi jatuh dan puing-puing jet tempur F-15 milik Arab Saudi di Provinsi Marib, Rabu (16/9/2026) waktu setempat. (via REUTERS/Houthi Military Media)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang sejumlah situs "sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat tak berawak (drone) pada hari Sabtu. Serangan ini memicu kepanikan luas setelah kobaran api dan gumpalan asap tebal terlihat mengepung area dekat bandara utama kota tersebut.

Mengutip Reuters, Minggu (20/09/2026), rekaman video dan foto menunjukkan pilar asap hitam raksasa membubung tinggi di area Bandara Internasional Raja Khalid. Asap pekat tersebut tampak menutupi jalan raya bandara, gedung terminal utama, dan berbagai fasilitas lainnya. Bahkan, kobaran api terlihat jelas menyala dari balik area yang diyakini sebagai tangki bahan bakar.

Otoritas pertahanan sipil Saudi sebelumnya langsung mengirimkan peringatan darurat semalaman melalui telepon terkait potensi bahaya serangan udara di Riyadh dan kota Al-Kharj di sebelah timur ibu kota, sebelum akhirnya mencabut status siaga pada Sabtu pagi.


Seorang jurnalis di area Olaya, Riyadh, bahkan melaporkan sempat mendengar suara ledakan keras sebelum peringatan dicabut. Kendati beberapa peringatan sempat berbunyi di Riyadh sejak perang AS-Iran dimulai, ini merupakan serangan langsung pertama yang dilaporkan ke ibu kota tersebut sejak eskalasi dengan Houthi meletus pada bulan Juli lalu.

Meski tidak merinci target spesifiknya di Riyadh, Houthi menyatakan serangan itu adalah murni balasan atas gempuran di ibu kota Yaman, Sanaa. Mereka juga mengaku telah membombardir fasilitas minyak Aramco di kota Yanbu di pesisir Laut Merah yang menjadi pusat ekspor minyak utama Saudi.

Merespons serangan ini, koalisi militer pimpinan Saudi mengeklaim bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan rudal yang diarahkan ke Riyadh pada Sabtu dini hari. Koalisi juga menyatakan telah sukses menggagalkan serangkaian serangan yang menargetkan warga sipil di kota Bish dan Farasan di barat daya, Taif di barat, serta Yanbu, tanpa menyebutkan ada atau tidaknya kerusakan dari rentetan serangan tersebut.

Teror udara yang mencekam ini memaksa Departemen Luar Negeri AS merilis peringatan keamanan pada hari Sabtu bagi warganya di Timur Tengah. Washington mendesak warga AS untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi dan meminta mereka yang berada di luar kawasan agar mempertimbangkan kembali secara serius rencana perjalanan ke wilayah tersebut. Di tengah krisis ini, Presiden AS Donald Trump justru tetap menolak permintaan Saudi untuk melakukan intervensi militer AS secara langsung guna melibas Houthi.

Konflik ini menciptakan ancaman nyata terhadap pasokan minyak global. Houthi, yang menguasai bagian terpadat di Yaman dan sebagian besar wilayah utara, terus menyerang kapal-kapal Saudi sejak mendeklarasikan blokade laut terhadap Riyadh pada bulan Juli. Hal ini sangat membahayakan rute alternatif Laut Merah untuk ekspor negara-negara Teluk, mengingat jalur utama di Selat Hormuz juga masih ditutup imbas perang AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada akhir Februari.

Menanggapi kebutuhan militer Saudi yang mendesak, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu Riyadh di bawah payung pakta pertahanan trilateral bersama Pakistan yang baru ditandatangani bulan lalu. Perjanjian tersebut secara tegas menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

"Kebutuhan Saudi dapat mencakup beberapa masalah teknis," ungkapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Teheran sejatinya menginginkan perang antara Saudi dan Houthi segera berakhir, seraya meyakini bahwa rakyat Yaman juga menginginkan penyelesaian damai. Rezaei membeberkan bahwa Iran terus melakukan konsultasi dengan mediator Qatar dan Pakistan, serta telah menyampaikan sejumlah syarat untuk melanjutkan negosiasi yang tertunda dengan AS.

"Ini termasuk mengakhiri perang di semua lini," papar Rezaei. "Kami sedang menunggu tanggapan dari Trump."

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat telah merilis pernyataan resmi yang mengutuk keras serangan lanjutan Houthi terhadap infrastruktur sipil dan energi Saudi yang telah melukai warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Badan dunia tersebut juga secara tegas mengecam eskalasi militer Houthi yang terus memperburuk krisis di Yaman.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Serangan Saudi-Houthi Meluas, Konflik Timur Tengah Makin Memanas