Raksasa Tambang Ini Bisa Setor Rp46 Triliun ke RI di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi penerimaan negara dari sektor perpajakan, dividen, hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai sekitar US$ 2,6 miliar setara Rp 46,13 triliun (asumsi kurs Rp 17.743 per US$) pada tahun 2026.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan setoran tersebut dihitung berdasarkan asumsi harga komoditas tembaga sebesar US$ 4,75 per pon dan harga emas sebesar US$ 4.000 per ons.
"Untuk proyeksi tahun 2026 ini, itu rencana penerimaan negara adalah US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 40-an triliun dan ini terdiri dari pajak, kemudian dividen, dan juga PNBP lainnya," ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).
Target penerimaan negara tersebut didorong oleh operasional penambangan bijih yang ditargetkan mencapai 124.000 ton per hari pada tahun 2026, atau sekitar 65% dari kapasitas normal perusahaan. Tingkat produksi tersebut merupakan bagian dari tahap pemulihan dampak bencana longsoran material basah yang sempat dialami operasional perusahaan pada September 2025 lalu.
Tony menjelaskan bahwa penyesuaian kapasitas produksi tersebut dibarengi dengan modifikasi fasilitas pendukung produksi untuk menjaga keberlanjutan operasi.
"Di mana saya bisa sampaikan di sini bahwa rencana atau proyeksi penambangan kita di tahun 2026 ini adalah 124.000 ton bijih per hari. Ini kalau kapasitas normal kita kira-kira 200.000 ton bijih per hari," paparnya.
PTFI menargetkan total produksi metal pada tahun 2026 mencapai 800 juta pon tembaga dan 700.000 ons emas, yang setara dengan 21 ton emas. Selain tembaga dan emas, fasilitas pemurnian (smelter) milik perusahaan juga ditargetkan menghasilkan 103 ton perak batangan, 1,4 juta ton asam sulfat, serta 900.000 ton terak tembaga (copper slag).
Tony menyampaikan bahwa tingkat produksi dan kontribusi perusahaan akan terus tumbuh seiring dengan pemulihan kapasitas penambangan hingga mencapai level normal pada tahun-tahun mendatang.
"Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang terkena longsor di tahun yang lalu," tuturnya.
Peningkatan volume produksi yang diproyeksikan melonjak mulai tahun 2027 tersebut dipastikan bakal memperbesar setoran finansial PTFI kepada kas negara secara signifikan.
Pada tahun 2027, kontribusi penerimaan negara diperkirakan melonjak menjadi US$ 4,6 miliar. Lebih lanjut, pada tahun 2028 dan 2029, setoran kepada negara diproyeksikan menembus angka US$ 8 miliar atau melampaui Rp120 triliun per tahun.
Tony menegaskan bahwa lonjakan penerimaan negara pada periode tersebut seiring dengan pemulihan operasional dan peningkatan volume produksi tambang.
"Ini akan sejalan dengan peningkatan produksi yang saya jelaskan di slide sebelumnya. Dan di tahun 2028 dan tahun 2029 dan seterusnya diperkirakan akan bisa mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 120 triliun lebih per tahunnya penerimaan negara dalam bentuk pajak, PNBP, dividen, dan pungutan-pungutan lainnya," terang Tony.
Guna menjaga keberlanjutan pasokan jangka panjang, PTFI juga tengah mengembangkan tambang masa depan Blok Kucing Liar yang dijadwalkan mulai berproduksi pada tahun 2029, dengan alokasi investasi mencapai Rp 25 triliun dari total investasi Rp 72 triliun hingga 2033.
"Tambang Kucing Liar yang merupakan tambang masa depan kami itu akan sudah mulai kami kerjakan dari sekarang dan itu sudah memasuki tahap development dan akan bisa mulai ditambang tahun 2029," tandasnya.
(pgr/pgr)