Ramai-Ramai Merek Mewah Mendadak Tutup Toko di China, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar barang mewah China menghadapi tekanan tajam seiring melemahnya daya beli konsumen dan memburuknya kondisi pasar properti. Sejumlah merek internasional dilaporkan menutup gerai di berbagai kota besar China karena permintaan yang terus menurun.
Laporan Asia News Network, dikutip Kamis (17/9/2026), menyebut merek seperti Louis Vuitton, Gucci, Balenciaga, dan Rolex terdampak pelemahan konsumsi. Butik-butik mewah yang sebelumnya ramai oleh konsumen kelas atas kini disebut semakin sepi di tengah perubahan perilaku belanja.
Survei yang dikutip laporan tersebut menunjukkan individu berpenghasilan tinggi berencana memangkas pembelian barang mewah sekitar 10% tahun ini. Kondisi itu dikaitkan dengan pengawasan pajak yang lebih ketat, gejolak pasar keuangan, serta pelemahan sektor properti dalam jangka panjang.
"Kelas menengah atas, yang terbebani oleh cicilan rumah, kredit mobil, dan biaya pendidikan, terpaksa menjual aset mewah mereka di pasar barang bekas," catat laporan tersebut. Namun, nilai sejumlah barang seperti jam tangan Rolex dan tas Louis Vuitton disebut ikut merosot hingga ribuan dolar.
Tekanan juga dirasakan kelas menengah akibat meningkatnya pengangguran, menyusutnya tabungan, serta membengkaknya utang. Sejumlah pusat perbelanjaan dan kawasan bisnis bahkan digambarkan berubah menjadi "kota mati".
Pelemahan konsumsi tidak hanya terjadi pada barang mewah. Kedai kopi, restoran, hingga pasar bahan makanan segar turut menghadapi penutupan karena rumah tangga kelas menengah semakin kesulitan mempertahankan tingkat konsumsi.
Penurunan harga properti turut menggerus kepercayaan konsumen. Banyak keluarga disebut masih menanggung utang besar sehingga hanya memiliki ruang terbatas untuk membelanjakan pendapatan mereka.
Laporan tersebut juga menyoroti kebijakan pemerintah China yang mengandalkan subsidi pembayaran kembali kartu kredit untuk mendorong konsumsi. Menurut laporan itu, langkah tersebut dinilai hanya memberikan dorongan jangka pendek, sementara perlambatan ekonomi telah meluas dari barang mewah ke minuman keras, produk tembakau premium, ritel, hingga sektor kuliner.
(sef/sef)