Ini 5 Provinsi dengan Jumlah Lansia Terbanyak, Mayoritas Perempuan

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Kamis, 17/09/2026 15:34 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Senior Vice President Impact Beyond Banking, DBS Foundation Nazla Mariza mengungkapkan sebanyak 16 provinsi di Indonesia telah memasuki aging society. Ini berarti sebanyak 10% populasi provinsi tersebut diisi oleh lansia.

Adapun lima provinsi dengan jumlah lansia tertinggi meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 17,78%, Jawa Timur sebesar 15,40%, Bali sebesar 15,03%, Jawa Tengah sebanyak 14,39%, Sulawesi Utara sebesar 14,08%. Menurut dia provinsi-provinsi tersebut kemungkinan akan menghadapi tantangan terkait penuaan penduduk lebih awal dibandingkan provinsi lainnya.

Nazla memaparkan terdapat tiga faktor pendorong, yakni tingkat kelahiran yang rendah, harapan hidup yang lebih panjang, dan migrasi keluar penduduk usia produktif.


"Artinya provinsi yang cenderung aging population ada lonjakan permintaan yang tinggi pada layanan kesehatan, perawatan rumah lansia, dan sebagainya. Kemudian provinsi yang cenderung masih muda membutuhkan penguatan SDM, cakupan pensiun yang luas, cakupan pekerjaan formal yang luas," ungkap dia dalam Peluncuran Riset "DBS Foundation: Indonesia Menuju Populasi Menua, Seberapa Siapkah Generasi Muda?" Kamis (17/9/2026).

Adapun lansia terbanyak adalah mereka dengan jenis kelamin perempuan. Ditambah jumlah penurunan kesehatan lansia perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.

"Artinya bukan berarti berumur panjang lalu lebih sehat. Tantangannya bagaimana kita bisa investasi kesehatan dan tidak hanya memperpanjang usia, tapi memperpanjang usia kita yang sehat," turut dia.

Lebih lanjut, berdasarkan riset tersebut, pada 2025 sebanyak 9 orang lansia ditanggung oleh 100 orang dengan usia produktif. Menurut dia jumlah ini terus mengalami tren peningkatan bahkan bisa mencapai 15 hingga 20 lansia di kemudian hari.

"Bagaimana kita kemudian di masa depan akan memiliki lansia-lansia yang maturing, yang sehat, produktif, dan memutus angka-angka ketergantungan generasi produktif," terang Nazla.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Group Marketing and Communications, PT Bank DBS Indonesia Mona Monika memaparkan berbagai hal yang perlu disiapkan untuk masa-masa pensiun.

Dia mengatakan seseorang perlu memiliki penghasilan dan pekerjaan terlebih dahulu. Meski demikian, persiapan dana pensiun masih melekat pada pekerja di sektor formal.

"Seperti yang tadi dibilang bahwa masih di atas 50% masyarakat Indonesia masih bekerja di sektor informal dan tadi juga di white papernya jelas sekali bahwa struktur atau sistem dana pensiun itu masih sangat nempel pada sektor formal," ujar dia.

Untuk itu diperlukan kebijakan dari pemerintah dalam menutup gap tersebut. Sektor swasta pun turut berperan dalam membantu masyarakat menyiapkan masa pensiun.

"Jadi, ada private sector di situ, ada organization social organization, mungkin di situ atau institution mungkin seperti contohnya foundation-nya Cinta Laura yang sudah mengambil porsi kecil untuk kesiapan dan closing the gap," tutur Mona.

Mona juga menyebut DBS Foundation melakukan pendekatan melalui tiga pilar, yakni edukasi, kesehatan, dan inklusi keuangan.

"Untuk bisa planning dan menyiapkan masa depan kita, we need to have the money first. That's why DBS Foundation kita akan program-program bersama dengan partner, mitra-mitra NGO kita, yang mana kita membuka akses-akses tersebut," ungkap dia.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Indonesia Jadi Negara Dengan Penduduk Terbanyak Ke-4 di Dunia