Ramai-Ramai Bos Perusahaan Jepang Beri Warning, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Para petinggi perusahaan Jepang mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap pelemahan yen. Menariknya, seruan agar mata uang Jepang menguat datang bahkan dari perusahaan-perusahaan yang selama ini justru mendapatkan keuntungan dari yen yang lemah.
Salah satunya datang dari Chairman Kawasaki Heavy Industries, Yoshinori Kanehana. Ia mengatakan pergerakan nilai tukar yen yang terlalu fluktuatif menjadi salah satu masalah terbesar bagi perusahaan karena menyulitkan penyusunan strategi bisnis.
"Kami tidak bisa membuat strategi ketika yen berfluktuasi," ujar Kanehana kepada CNBC International di sela-sela konferensi Gastech, di Bangkok, Thailand, Selasa (15/9/2026).
Kanehana bahkan mengatakan level yen di sekitar 150 per dolar AS dapat membuat Kawasaki mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian kegiatan manufakturnya dari Amerika Serikat (AS) kembali ke Jepang. Kawasaki saat ini memiliki 27 fasilitas produksi di luar Jepang, termasuk di AS, serta 17 fasilitas di dalam negeri.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa yen yang terlalu lemah tidak selalu menjadi keuntungan bagi perusahaan Jepang. Pelemahan mata uang memang dapat meningkatkan daya saing ekspor, tetapi juga membuat biaya produksi dan berbagai kebutuhan impor menjadi lebih mahal.
Bos Perusahaan Minyak Ingin Yen di 100?
Seruan agar yen menguat bahkan datang dari perusahaan energi Jepang yang sebagian besar bisnisnya berada di luar negeri. Salah satunya Presiden sekaligus CEO Inpex, Takayuki Ueda.
Ia mengatakan nilai tukar 100 yen per dolar AS merupakan level yang "tepat" bagi perekonomian Jepang. Hal ini cukup menarik karena hampir 90% bisnis Inpex dilakukan di luar Jepang dan sebagian besar transaksi menggunakan dolar AS.
Secara teori, kondisi tersebut membuat perusahaan mendapatkan keuntungan ketika pendapatan dalam dolar dikonversi ke yen yang lebih lemah. Dalam laporan keuangannya, Inpex menyebut pelemahan yen sebesar 6,7% menjadi 158,37 per dolar AS membantu mengimbangi penurunan pendapatan perusahaan pada paruh pertama tahun ini akibat turunnya volume penjualan minyak mentah.
"Jika melihat perekonomian Jepang secara keseluruhan, nilai tukar saat ini mungkin terlalu lemah," kata Ueda.
Yen Masih Lemah Secara Historis
Yen memang telah menguat cukup cepat dalam dua pekan terakhir. Namun, secara historis mata uang Jepang masih berada pada level yang relatif lemah.
Data yang dikutip CNBC International menunjukkan rata-rata nilai tukar yen selama 10 tahun berada di sekitar 123 yen per dolar AS. Pada Kamis, yen diperdagangkan sekitar 156,3 per dolar AS.
Chairman Mitsui O.S.K. Lines, Takeshi Hashimoto, sebelumnya juga mengatakan dirinya menginginkan pasar valuta asing yang lebih stabil. Hashimoto mengatakan dirinya akan merasa nyaman jika yen berada di kisaran 150-155 per dolar AS.
Mitsui O.S.K. Lines sendiri memperoleh sebagian besar pendapatannya dalam dolar AS sehingga secara langsung dapat memperoleh manfaat dari yen yang lebih lemah. Namun, Hashimoto mengatakan pelemahan yen juga menimbulkan kekhawatiran karena dapat menciptakan situasi yang membingungkan di pasar keuangan.
Tunggu Arah Bank Sentral Jepang
Sebenarnya, perusahaan-perusahaan Jepang sebelumnya memperhitungkan rata-rata nilai tukar sekitar 152,51 yen per dolar AS untuk paruh kedua tahun ini. Angka tersebut berdasarkan survei triwulanan Bank of Japan (BOJ) yang dirilis pada Juli.
Di sisi lain, pasar kini menantikan keputusan BOJ mengenai suku bunga. Investor memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% dalam pertemuan kebijakan dua hari yang berakhir Jumat.
Head of Market Strategy Ebury, Matthew Ryan, mengatakan keputusan tersebut memiliki taruhan yang sangat besar bagi BOJ. Ia memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sekaligus memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, yang dapat membuka ruang bagi kenaikan suku bunga secara berkala berikutnya.
(sef/sef)