Prabowo Targetkan RI Bisa Produksi BBM Campur Etanol 20% E20 di 2028
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto pada Rabu malam (16/9/2026) melakukan rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet terkait dengan implementasi program campuran bahan bakar nabati bioetanol 20% atau E20.
Program itu ditargetkan akan diimplementasi pada 2028 mendatang. "Ratas dipimpin bapak presiden langsung kita membahas agar 2 tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20," kata Prabowo, usai rapat.
Dari rapat itu, menurut Zulhas mengatakan, presiden meminta Menteri Pertanian Andi Amran menyiapkan rencana penyediaan lahan untuk memproduksi bahan baku bioetanol. Sedangkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diminta untuk menyiapkan industri pengolahan.
"Danantara nanti industrinya ya, mengonversi Ethanol itu yang paling memungkinkan ternyata dari tebu, ya. Menyiapkan lahannya lebih kurang 2 juta hektar. Ada yang dari luar Jawa, ada yang dari Jawa, ada dari Sumatra, akan siapkan," kata Zulhas.
"Dalam 2 tahun kita harus bekerja keras melihat perkembangan dunia sekarang, kita harus mampu untuk menghasilkan E20. Itu, kira-kira itu intinya tadi," tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas pun tidak menampik bahwa penyediaan lahan untuk bahan baku etanol kerap menjadi kendala. Namun setelah dibahas dalam rapat bisa di diputuskan bahwa ada alokasi lahan yang bisa disediakan seluas 2 juta hektare di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Jawa untuk tanaman tebu.
"Untuk tahap pertama tadi itu 2 juta hektare, bottleneck-nya lahan, ya. Tapi setelah dipetakan, ditugaskan kepada BUMN dan Pak Mentan tadi dipetakan, kemungkinan kita akan dapat 2 juta itu," tuturnya.
Lebih lanjut, menurutnya kebijakan ini tidak hanya berhenti di E20, melainkan campuran etanol dalam bensin akan ditingkatkan hingga komposisi 50% atau (E50).
"E20 dalam negeri semuanya. Bertahap kita akan menuju E50 seperti B50, tapi yang pertama ini E20. Jangka panjang akan menuju E50," tuturnya.
Pada kesempatan terpisah, CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan Danantara akan mendukung program untuk mengurangi impor BBM dan meningkatkan devisa negara.
"Intinya kami dari Danantara tentunya untuk program-program yang memang yang sangat baik mengurangi impor dan meningkatkan devisa. Tentu kita selalu dukung," kata Rosan.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menguntkapkan bahwa dalam rapat dibahas mengenai ketahanan energi hingga teknologi untuk mendukung ketahanan negergi. Nantinya program ketahanan energi pemerintah akan didukung oleh pihak swasta hingga Danantara.
Diketahui dalam rapat itu juga dihadiri Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza, Menteri Pertanian Andi Amran.
(pgr/pgr)