MARKET DATA
Internasional

Kapal Perang 2 Kekuatan Nuklir Asia Tabrakan, Situasi Memanas

luc,  CNBC Indonesia
17 September 2026 08:05
A warship of Pakistan take part in the Aman or peace exercise in the Arabian Sea, off Karachi, Pakistan, Monday, Feb. 15, 2021. Warships over 40 countries including the United States, Russia, Britain and China are participating the five-day multinati
Foto: Ilustrasi. AP/Mohammad Farooq

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan India dan Pakistan kembali memanas setelah kapal perang kedua negara bertabrakan di perairan internasional. Masing-masing negara memanggil diplomat senior pihak lain untuk menyampaikan protes keras atas insiden yang terjadi di Laut Arab tersebut, Rabu (16/9/2026).

Kementerian Luar Negeri India mengatakan telah memanggil pejabat senior Pakistan untuk menyampaikan keberatan resmi atas apa yang disebutnya sebagai "tindakan yang tidak dapat diterima dan tidak profesional" oleh unit angkatan laut Pakistan hingga menyebabkan tabrakan dengan kapal perang India.

Pakistan juga mengambil langkah serupa. Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan telah memanggil kuasa usaha ad interim Komisi Tinggi India di Islamabad untuk menyampaikan ketidaksetujuan terhadap "tindakan yang sangat provokatif dan tidak dapat diterima" yang dilakukan kapal Angkatan Laut India.

Insiden ini menjadi ketegangan militer terbuka pertama antara dua negara bersenjata nuklir tersebut sejak keduanya terlibat konflik militer sengit selama empat hari pada tahun lalu. Pertempuran itu sempat memunculkan kekhawatiran akan pecahnya perang yang lebih luas sebelum akhirnya diakhiri melalui gencatan senjata.

Pada Selasa, India dan Pakistan sama-sama menyalahkan pihak lain atas tabrakan tersebut.

Sumber-sumber India mengatakan insiden terjadi ketika sebuah kapal perang Pakistan bergerak mendekati kapal perang India yang sedang menjalankan misi pengawasan rutin di bagian utara Laut Arab. Kapal Pakistan disebut melaju dengan kecepatan tinggi saat mendekati kapal India yang berada di garis depan.

Tabrakan itu tidak menimbulkan kerusakan besar. Namun, Kementerian Luar Negeri India menilai tindakan Pakistan "secara langsung bertentangan" dengan kesepakatan bilateral yang dibuat pada 1991 mengenai latihan militer, manuver, dan pergerakan pasukan.

Kesepakatan tersebut mengatur agar kapal perang dan kapal selam kedua negara menjaga jarak sedikitnya tiga mil laut satu sama lain untuk mencegah kecelakaan di perairan internasional.

"Kuasa usaha Pakistan diminta menyampaikan kepada pihak berwenang di Pakistan mengenai perlunya seluruh unit militer menjalankan kehati-hatian dan menghormati ketentuan perjanjian yang relevan antara kedua pihak guna mencegah terulangnya insiden serupa," kata Kementerian Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters.

India juga menginstruksikan diplomat seniornya di Islamabad untuk menyampaikan protes serupa kepada Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Namun, Pakistan memiliki versi berbeda. Kementerian Luar Negeri Pakistan menuduh kapal India melakukan "manuver agresif dalam jarak yang sangat dekat dan berbahaya" dengan kapal perang Pakistan yang sedang mengikuti latihan militer dua tahunan.

Kuasa usaha Pakistan di New Delhi diminta menyampaikan kepada pemerintah India bahwa Islamabad menolak tindakan kapal Angkatan Laut India tersebut.

"Kuasa usaha Komisi Tinggi Pakistan di New Delhi akan menyampaikan demarche yang sama kepada Kementerian Luar Negeri India," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.

India dan Pakistan saat ini tidak memiliki duta besar di ibu kota masing-masing. Hubungan diplomatik kedua negara diturunkan sejak perselisihan mengenai Kashmir pada 2019, sehingga misi diplomatik keduanya dipimpin oleh kuasa usaha ad interim.

Kedua negara telah terlibat dalam tiga perang besar sejak berakhirnya kekuasaan kolonial Inggris di India pada 1947. Dua di antaranya berkaitan dengan Kashmir, wilayah yang terbagi antara India dan Pakistan tetapi diklaim sepenuhnya oleh kedua negara.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kim Jong Un Pamer Senjata Baru "Kang Kon", Beratnya 5.000 Ton


Most Popular
Features