MARKET DATA
Internasional

Korupsi Negeri Kaya Minyak Bikin Gerah, AS-Jerman Mau Turun Tangan

tps,  CNBC Indonesia
16 September 2026 19:41
Para jamaah Muslim Syiah melaksanakan salat Iduladha di antara makam Imam Hussein dan Imam Abbas di kota suci Karbala, Irak, Rabu (27/5/2026). (REUTERS/Alaa Al-Marjani)
Foto: REUTERS/Alaa Al-Marjani

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Jerman kini menyoroti tajam krisis kejahatan finansial dan masalah keamanan di Irak. Washington secara tegas mendesak Baghdad untuk segera mengusut tuntas kasus korupsi kelas kakap, sementara Berlin turut memberikan perhatian khusus terkait iklim investasi dan stabilitas kawasan.

Mengutip Kurdpress dan INA, Rabu (16/9/2026), tekanan keras AS ini disampaikan langsung oleh Utusan Khusus AS Tom Barak dalam pertemuannya dengan Kepala Dewan Peradilan Tertinggi Irak Faiq Zeidan dan Perdana Menteri (PM) Irak Ali Faleh Al-Zaidi di Baghdad. Pertemuan tersebut membahas serangkaian syarat mutlak bagi keberlanjutan dukungan politik, ekonomi, dan keamanan AS untuk Irak.

Terkait isu korupsi yang dinilai Washington terus menggerogoti pemerintahan dan menghamburkan sumber daya negara, Barak menuntut agar pemerintah Irak berani menindak tegas para tokoh senior yang terlibat. "Kasus-kasus korupsi besar harus dibuka kembali tanpa mempertimbangkan pengaruh politik atau afiliasi partai, dan para terdakwa harus diproses secara hukum," tegasnya.

Guna memberantas kejahatan kerah putih ini, AS juga mendesak Irak untuk memperketat pengawasan di sejumlah titik rawan. "Pemantauan sektor perbankan dan penyeberangan perbatasan harus diintensifkan untuk mencegah penyelundupan, pencucian uang, dan transfer aset ilegal," paparnya.

Selain itu, Barak turut menekan Baghdad agar segera memonopoli kepemilikan senjata di tangan pemerintah dan membubarkan seluruh kelompok bersenjata di luar struktur keamanan resmi tanpa terkecuali, terutama kelompok yang dilengkapi dengan rudal, pesawat tak berawak (drone), dan senjata berat. Ia menyadari beberapa kelompok seperti batalion Hizbullah dan Al-Nujba terus menentang upaya perlucutan ini.

"Tindakan pemerintah Irak dalam bidang pengendalian senjata harus nyata dan berwujud, bukan hanya sekadar tindakan simbolis atau media," tuturnya.

Jerman Apresiasi Langkah Irak

Di sisi lain, isu korupsi juga menjadi sorotan utama dalam pertemuan bilateral antara Irak dan Jerman di Berlin pada hari Selasa. Kanselir Jerman Friedrich Merz, dalam konferensi pers bersama PM Ali Faleh Al-Zaidi, memberikan pandangan yang lebih optimistis terkait upaya reformasi Baghdad.

"Pemerintah Irak telah mengambil langkah-langkah signifikan untuk memerangi korupsi," ungkapnya.

"Banyak perusahaan kami di Irak sedang melakukan pekerjaan perintis," paparnya.

Lebih lanjut, Merz turut menyinggung krisis geopolitik di Timur Tengah yang berdampak luas pada stabilitas ekonomi dan keamanan rantai pasok global. Ia secara khusus menyatakan kekhawatirannya atas situasi mencekam yang terjadi di Laut Merah akibat konflik yang berlarut-larut.

"Iran harus mengakhiri penutupan Selat Hormuz," tegasnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengadilan Sita Rp 187 M & 40 Batang Emas Terkait Korupsi Eks Wamen


Most Popular
Features