Persaingan EV Kompetitif, RI Perlu Lakukan Ini Agar Tidak Ketinggalan

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Rabu, 16/09/2026 15:09 WIB
Foto: Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay di acara COFFEE MORNING 2026 dengan tema “Beyond EV: Building a Resilient Automotive Ecosystem Amid Global Supply Chain Shifts” di Casalena Jakarta, Rabu (16/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai industri kendaraan listrik tengah naik daun dan menjadi perhatian, bukan hanya di DPR namun juga Presiden Prabowo. Menurut Saleh pada beragam kesempatan Presiden Prabowmobil buatan Indonesia ke berbagai negara, dan mobil tersebut adalah mobil listrik.

"Bisnis mobil listrik tengah jadi tren dunia, dan sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar kita jauh tertinggal dibandingkan dengan Cina dan India yang juga memiliki jumlah penduduk yang besar, namun makin kompetitif," ungkap Saleh dalam acara bertajuk "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS, dikutip Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, Cina menjadi menjadi pemimpin dalam industri kendaraan listrik, disusul India, dan Amerika Serikat. Saleh menilai, harusnya Indonesia bisa berada di urutan keempat dan mengambil kesempatan dan momentum yang ada saat ini.


"Di tengah industri otomotif saat ini, banyak hal yang bisa dicapai termasuk untuk meningkatkan daya saing global. Apalagi banyak juga anak bangsa yang bekerja di luar negeri bekerja dalam industri ini. Posisi ini harus dikembalikan, agar anak-anak ini bisa kembali bekerja di Indonesia, serta memberi keuntungan di tengah tensi ekonomi dan geopolitik saat ini," rinci Saleh.

Oleh karena itu, Saleh memastikan bahwa DPR juga mengambil peran dalam pengembangan bisnis mobil listrik di Indonesia. Menurutnya saat ini DPR tengah melakukan harmonisasi regulasi yang berkeadilan.

Saleh memahami untuk sektor industri yang paling penting agar memastikan investasi berjalan dengan aman. Oleh karena itu, pihaknya tengah membuat regulasi dan aturan yang ditaati seluruh anak bangsa.

"DPR akan lakukan kajian yang dijadikan bahan aturan perundang-undangan yang baru untuk EV sebagai acuan pengembangan Mobil Listrik di Indonesia," pungkas Saleh.

Sementara itu, Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Antonius Sehonamin, mengatakan kondisi industri otomotif di Tanah Air saat ini yang tengah menghadapi berbagai pergeseran, baik dari sisi teknologi maupun rantai pasok global.

"Kami melihat ada transisi di industri otomotif di semua level, ada faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari elektrifikasi, affordability, economics productivity, utilisasi, dan operational efficiency," ujar Antonius.

Antonius menjelaskan, dari sisi daya saing atau competitiveness, DBS mencatat setidaknya tiga tren besar yang tengah membentuk arah industri otomotif ke depan. Pertama, elektrifikasi kendaraan. Kedua, lokalisasi rantai pasok. Ketiga, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), data, dan teknologi.

Menurutnya, kapasitas produksi saja tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penentu daya saing perusahaan otomotif. Faktor-faktor lain seperti adaptasi teknologi dan efisiensi operasional dinilai semakin menentukan posisi pemain di industri ini ke depannya.

"Dari pemain-pemain kami melihat bahwa harus melakukan adaptability dan adjustment terhadap faktor-faktor di dalam menentukan competitiveness ke depannya," jelasnya.

Antonius menyoroti keunggulan Indonesia dari sisi kekayaan sumber daya di sektor hulu, seperti nikel dan tembaga, yang menjadi modal penting bagi hilirisasi industri otomotif nasional. Meski demikian, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mencakup keseluruhan rantai nilai (end-to-end value ecosystem), mulai dari manufaktur canggih hingga sektor baterai, termasuk penyimpanan energi, produksi baterai, dan daur ulangnya.

"Untuk itu semua kami melihat bahwa ada tiga, jadi harus ada investasi, ada kapabilitas, dan harus ada pengembangan ekosistem," ungkapnya.

Di sisi lain, DBS juga melihat pergeseran pendekatan dalam manajemen rantai pasok industri otomotif, dari konsep just-in-time menuju apa yang disebut Antonius sebagai just-in-scale. Pendekatan ini disebut lebih bersifat antisipatif dan berorientasi pada optimalisasi untuk membangun ketahanan atau resiliensi, baik dalam manajemen inventori, rantai pasok, maupun kapasitas manufaktur lokal.

Pergeseran tersebut, menurut Antonius, turut mendorong pentingnya alokasi modal yang matang, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, guna mendukung kebutuhan investasi maupun modal kerja perusahaan-perusahaan di sektor otomotif.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

'Jurus' Bank DBS Indonesia Dukung Pertumbuhan Sektor ERI