Penjualan Mobil Bensin Turun-BEV Naik, Bos Toyota Cuma Bilang Gini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 14:15 WIB
Foto: Mobil listrik melintasi ruas Jalan M.H Thamrin di Jakarta, Kamis (16/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Di sisi lain, distribusi kendaraan berbahan bakar bensin mengalami penurunan secara bulanan pada Agustus 2026. Toyota-Astra Motor (TAM) menilai perkembangan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri otomotif nasional.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales kelompok mobil berbahan bakar bensin yang terdiri dari LCGC, mobil penumpang ICE non-LCGC, dan kendaraan komersial mencapai 54.683 unit pada Agustus 2026. Angka ini turun 4,34% dibandingkan Juli yang mencapai 57.166 unit.

Pada periode yang sama, penjualan mobil listrik murni justru mencatat lonjakan. Distribusi BEV dari pabrik ke dealer meningkat dari 13.972 unit pada Juli menjadi 17.413 unit pada Agustus 2026, atau tumbuh 24,63% hanya dalam satu bulan.


Namun, Marketing Director PT Toyota-Astra Motor Bansar Maduma mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan konsumen Indonesia telah sepenuhnya meninggalkan kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).

"Memang ini merupakan suatu challenge ya. Terutama bukan hanya untuk di Toyota, tetapi juga di dunia otomotif nasional," kata Bansar dalam Journalist Test Drive 2026 Toyota, Selasa (15/9/2026).

Kendaraan ICE masih menjadi mayoritas pilihan masyarakat Indonesia. Karena itu, Toyota melihat kebutuhan pasar tidak bisa hanya dijawab melalui satu jenis teknologi kendaraan.

"Kalau mungkin teman-teman tahu majority adalah masih ICE dibandingkan BEV. Dan itu pastinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia," ujarnya.

Di tengah perubahan tren tersebut, Toyota menilai teknologi hybrid dapat menjadi salah satu solusi bagi konsumen yang ingin mendapatkan efisiensi lebih tinggi tanpa langsung beralih ke kendaraan listrik murni.

Bansar mengatakan teknologi hybrid dapat membantu konsumen mengurangi konsumsi bahan bakar. Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah tantangan yang dihadapi konsumen dalam memperoleh bahan bakar.

"Namun Toyota dengan adanya hybrid, ini bisa menolong customer kita dengan menghadirkan teknologi hybrid yang lebih fuel efficiency," kata Bansar.

Strategi tersebut terlihat dari peningkatan penjualan hybrid Toyota. Bansar menyebut penjualan kendaraan hybrid Toyota telah tumbuh lebih dari 80% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tadi kan teman-teman juga sudah kami informasikan ya bahwa peningkatan dibandingkan tahun lalu itu lebih dari 80%," ujarnya.

Meski pertumbuhan elektrifikasi semakin cepat, kontribusi kendaraan elektrifikasi terhadap penjualan Toyota secara keseluruhan saat ini masih sekitar 21%. Artinya, kendaraan ICE masih menyumbang sekitar 79% penjualan Toyota.

"Kalau dilihat elektrifikasi kita secara komposisi masih 21%. Kalau masih 21% berarti kan masih ada 79% yang ICE," kata Bansar.

Adapun tiga model hybrid yang menjadi salah satu penopang utama elektrifikasi Toyota saat ini adalah Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid EV, dan Yaris Cross Hybrid. Veloz Hybrid EV bahkan telah mencatat penjualan sekitar 2.000 unit per bulan.

Di sisi lain, data Gaikindo menunjukkan tidak seluruh kendaraan elektrifikasi mengalami pertumbuhan pada Agustus. Penjualan hybrid justru turun 4,21% secara bulanan dari 8.004 unit pada Juli menjadi 7.667 unit pada Agustus. Sementara itu, penjualan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) hanya meningkat tipis 1,01%, dari 1.973 unit menjadi 1.993 unit.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Insentif Baru Kendaraan Listrik Akan Diumumkan 2-3 Pekan Mendatang