Heboh Air Laut Surut Usai Anak Krakatau Erupsi, Ini Kata Badan Geologi

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 13:40 WIB
Foto: Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, perwakilan BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melakukan pemantauan langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau dari KRI Lepu-861 milik TNI Angkatan Laut. (Instagram/ BPBD Lampung)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan fenomena air laut surut di Perairan Banten pada 6 September 2026 lalu tidak berkaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 hingga 5 September 2026. Hal itu menyusul adanya kepanikan publik atas surutnya air laut setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.

Erupsi menerus gunung api tersebut tercatat telah dinyatakan selesai pada lewat tengah malam 6 September 2026, sebelum video surutnya air laut beredar di media sosial.

Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi Kementerian ESDM Athanasius Cipta menjelaskan, fenomena air laut surut dapat menjadi pertanda awal kedatangan gelombang tsunami apabila surut terjadi dengan tempo cepat serta jarak yang jauh melebihi pasang surut biasa.


Meski demikian, fenomena air laut surut tidak selalu diikuti oleh datangnya gelombang tsunami.

"Secara kronologis, video muncul pada tanggal 6 September 2026, sementara letusan menerus Gunung api Anak Krakatau dimulai tanggal 4 hingga 5 September 2026. Pada lewat tengah malam pukul 6 September 2026, Badan Geologi telah menyatakan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah selesai. Artinya, bisa disimpulkan bahwa surut laut pada tanggal 6 September 2026 itu tidak ada kaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Athanasius dalam unggahan Instagram resmi @badan.geologi, dikutip Senin (14/9/2026).

Berdasarkan catatan Badan Geologi, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau maupun induknya tercatat pernah memicu tsunami, termasuk kejadian erupsi Desember 2018 yang menerjang pantai barat Banten dan Kalianda, Lampung. Selain itu, letusan Krakatau Purba pada tahun 416 serta erupsi 26 Agustus 1883 juga menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang 22 meter di Teluk Betung, 15 meter di Carita dan Anyer, serta kenaikan air 1,8 meter di Tanjung Priok Jakarta.

"Apakah Anak Krakatau pernah memicu terjadinya tsunami? Pernah. Yang terakhir dan tentu kita masih ingat pada tahun 2018, Desember 2018, erupsi Gunung Anak Krakatau memicu tsunami yang menyapu pantai barat Banten dan juga Kalianda, Lampung. Sebelumnya, tsunami yang paling besar yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau adalah pada tahun 1883, saat itu namanya adalah Gunung Krakatau. Erupsi pada tanggal 26 Agustus 1883 dan memicu terjadinya tsunami di Teluk Betung setinggi 22 meter, di pantai barat Banten sekitar Carita dan Anyer sekitar 15 meter, bahkan di Tanjung Priok Jakarta tercatat adanya kenaikan air sekitar 1,8 meter. Sebelumnya juga, Krakatau Purba tahun 416 juga pernah meletus dan menyebabkan tsunami," paparnya.

Walaupun gunung api Anak Krakatau memiliki rekam jejak sebagai pemicu tsunami, pihaknya memastikan tidak menemukan indikasi aktivitas erupsi yang berpotensi merobohkan tubuh Gunung Anak Krakatau sejak 2018 hingga saat ini.

"Namun, sejak tahun 2018 hingga sekarang, Badan Geologi tidak menemukan adanya indikasi bahwa Gunung Anak Krakatau akan meletus besar, sehingga merobohkan sebagian tubuhnya dan memicu terjadinya tsunami," tegasnya.

Dengan begitu, pihaknya merekomendasikan masyarakat untuk mematuhi batas aman aktivitas sejauh 3 km dari pusat letusan. Masyarakat diimbau tetap tenang, waspada, serta tidak termakan hoaks dengan terus memantau saluran resmi Magma Indonesia, situs Badan Geologi, maupun arahan petugas BNPB dan BPBD.

"Satu, menjauhi segala aktivitas dalam radius 3 km dari pusat letusan. Yang kedua, tetap waspada, tetap tenang, tapi tidak termakan oleh hoaks dan informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Anak Krakatau Kembali Erupsi - Kecelakaan Maut Bus Masuk Jurang