Internasional

Trump Ngaku Tergoda Ambil Minyak Iran, Perang Disebut Bisa Balik Modal

tps, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 13:35 WIB
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa negaranya dapat terus melanjutkan kampanye militernya terhadap Iran dan mengambil alih kendali atas minyak negara tersebut. Ia menyamakan skenario ini dengan kesepakatan yang sukses dibuat Washington dengan Venezuela pada awal tahun ini.

Mengutip CNBC Ingernational, Senin (14/09/2026), Trump melontarkan ancaman tersebut pada Minggu saat menghadiri kejuaraan golf Irish Open di Irlandia. Ia menyebut pendapatan AS dari kesepakatan Venezuela, yang memberi Washington akses ke sekitar seperlima cadangan minyak negara itu, telah sukses membayar biaya perang berkali-kali lipat.

"Kita pada akhirnya akan keluar (dari perang), kecuali kita memutuskan untuk tinggal dan menyimpan minyak seperti Venezuela," tegasnya.


Sebagai informasi, di bawah kesepakatan yang dicapai pada Agustus lalu, Venezuela menyerahkan kendali mayoritas AS atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyaknya-angka yang lebih dari dua kali lipat cadangan AS sendiri. Sebagai imbalannya, dana sebesar US$209 miliar (Rp3.678,4 triliun) disuntikkan ke kas negara Venezuela.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mencatat kesepakatan itu juga akan membawa investasi swasta mendekati US$ 100 miliar (Rp1.760 triliun) untuk menghidupkan kembali ekonomi negara tersebut.

Terkait konflik di Timur Tengah, Trump memperkirakan perang Iran yang telah berlangsung selama tujuh bulan itu akan berakhir pada tahun ini, kemungkinan setelah pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Ia berjanji bahwa harga bensin akan turun drastis layaknya batu yang jatuh begitu perang usai.

Lebih lanjut, ia juga mengeklaim hanya akan membuat kesepakatan yang tepat untuk AS. "Teheran terus-menerus menelepon (untuk perundingan damai)," ucapnya, sebuah klaim yang sebelumnya telah dibantah mentah-mentah oleh pihak Iran.

Komentar provokatif Trump ini muncul tepat di tengah macetnya jalur diplomasi di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, melalui platform X pada hari Minggu mengumumkan bahwa pertemuan antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas kesepakatan rute pelayaran di jalur air vital tersebut terpaksa ditunda karena masih perlunya konsensus.

Padahal, para pejabat sedianya dijadwalkan bertemu pada hari Senin ini untuk menandatangani perjanjian rute pengiriman Iran-Oman, meskipun tidak ada pembicaraan langsung antara AS dan Iran yang sedang berlangsung.

Selat Hormuz sendiri telah menjadi sasaran blokade angkatan laut Iran dan disusul oleh AS sejak perang pecah pada Februari, yang secara efektif menahan harga energi global di level tinggi. Kesepakatan bulan Juni antara Washington dan Teheran juga goyah akibat perselisihan atas urat nadi ekonomi ini. Situasi kian rumit setelah milisi Houthi di Yaman baru-baru ini melancarkan serangan dahsyat yang memberi kelompok sekutu Teheran itu pengaruh strategis atas jalur air kritis kedua, yakni Bab el-Mandeb.

Di lapangan, kapal-kapal kargo yang dianggap tidak patuh secara rutin menjadi sasaran gempuran Iran. Sementara itu, pasukan AS secara berkala terus mengebom garis pantai Iran demi menentang kendali Republik Islam tersebut atas selat Hormuz.

Imbas dari kekacauan beruntun ini, harga minyak dunia meroket melewati angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Mei. Harga energi ini melonjak lebih tinggi lagi pada perdagangan hari Senin setelah Arab Saudi terpaksa menutup pipa energi Timur-Barat utamanya menyusul kerusakan akibat serangan pesawat tak berawak (drone) Irak.

Di pasar global, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terpantau naik 2,3% menjadi US$102,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional diperdagangkan 2,4% lebih tinggi, bertengger di level US$107,11 per barel.


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Klaim Kuasai 20% Cadangan Minyak Venezuela