Peta Penguasa Logam Tanah Jarang Dunia, di Mana Posisi RI?

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 15:30 WIB
Foto: Logam Tanah Jarang

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Industri Mineral (BIM) membeberkan peta sebaran produksi dan cadangan logam tanah jarang (LTJ) global. Saat ini, China, Vietnam, hingga Rusia tercatat sebagai negara dengan cadangan LTJ terbanyak di dunia.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi menjelaskan bahwa peta sebaran tersebut mencakup data sumber daya (resources), cadangan (reserve), hingga angka produksi di tingkat internasional.

Namun, Yogi menyampaikan bahwa Indonesia belum masuk ke dalam peta sebaran tersebut. Hal ini dikarenakan proses pemetaan serta validasi data di lapangan masih terus diselesaikan.


"Nah, kalau kita lihat dari peta sebaran produksi dan cadangan logam tanah jarang di mancanegara, maka sejumlah negara memang telah memberikan pernyataan, baik yang bersifat resources, yang bersifat reserve, dan juga produksinya. Nah, ini memang menjadi salah satu informasi, statement, yang bisa memberikan satu posisi tawar yang sangat kuat ya bagi masing-masing negara," katanya dalam acara yang digelar Perhimpuan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), di JIExpo, dikutip Senin (14/9/2026).

Berdasarkan catatannya, dari data USGS 2023 yang dikutip pihaknya, saat ini negara dengan sumber cadangan LTJ terbanyak yakni China dengan total cadangan mencapai 44 juta ton dan produksi hingga 210 ribu ton.

Negara kedua dengan cadangan LTJ terbanyak yakni Vietnam dengan cadangan sebanyak 22 juta ton dengan produksi 4,2 ribu ton. Diikuti dengan Rusia dan Brazil dengan cadangan hingga 21 ton dan masing-masing produksinya mencapai 2,6 ribu ton dan 80 ton.

Berikut daftar negara dengan cadangan LTJ terbanyak di dunia:

China - cadangan 44 juta ton; produksi 210 ribu ton
Vietnam - cadangan 22 juta ton; produksi 4,2 ribu ton
Rusia - cadangan 21 juta ton; produksi 2,6 ribu ton
Brasil - cadangan 21 juta ton; produksi 80 ton
India - cadangan 6,9 juta ton; produksi 2,9 ribu ton
Australia - cadangan 4,2 juta ton; produksi 18 ribu ton
Amerika Serikat - cadangan 2,3 juta ton; produksi 43 ribu ton
Greenland - cadangan 1,5 juta ton
Tanzania - cadangan 890 ribu ton
Kanada - cadangan 830 ribu ton
Afrika Selatan - cadangan 790 ribu ton

Indonesia sendiri belum mencantumkan posisinya dalam peta tersebut bukan karena tidak memiliki potensi, melainkan masih menunggu penyelesaian kegiatan survei, eksplorasi, serta kesiapan sumber daya manusia (SDM).

"Di dalam peta ini memang kalau kita lihat Indonesia belum dimunculkan, ya. Bukan berarti tidak ada, memang kita sedang memastikan, sedang menunggu beberapa kegiatan survei, eksplorasi, kemudian juga kita perlu untuk menyiapkan competent person, sehingga nanti pada waktunya diharapkan kita bisa segera memberikan pernyataan," tandasnya.


(ven/wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prabowo Terbang ke Rusia Penuhi Undangan Putin