MARKET DATA
Internasional

Trump Beri Warning Keras Zelensky, Minta Hentikan Serangan ke Rusia

tps,  CNBC Indonesia
14 September 2026 14:30
Presiden Amerika Serikat (AS)Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskydan beberapa pemimpin tinggi Eropa di Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (18/8/2025).  (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan beberapa pemimpin tinggi Eropa di Gedung Putih, Washington, D.C., AS, Senin (18/8/2025). (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk segera berhenti menargetkan infrastruktur bahan bakar diesel Rusia dalam serangkaian serangan udaranya, dengan dalih langkah tersebut sangat merugikan dunia.

Mengutip CNN, Senin (14/9/2026), peringatan keras ini dilontarkan Trump saat melakukan kunjungan resmi ke Irlandia pada hari Minggu. Manuver serangan pesawat tak berawak (drone) jarak jauh Ukraina selama ini memang secara intens menargetkan pabrik pengolahan utama Rusia, yang berdampak pada penurunan drastis kapasitas penyulingan negara pengekspor diesel terbesar kedua di dunia tersebut.

"Tuan Zelensky harus melakukan satu hal. Ia harus berhenti menghancurkan bahan bakar diesel di Rusia. Biarkan dia mengejar target lain, tetapi jangan bahan bakar diesel, karena dia menyebabkan kekurangan diesel," tegasnya.

Trump juga menyoroti bahwa krisis pasokan diesel global saat ini murni disebabkan oleh konflik di Eropa Timur, bukan imbas dari konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Iran, dan Israel.

"Ini tidak dilakukan oleh Timur Tengah. Ini dilakukan oleh apa yang terjadi dengan Rusia dan Ukraina," paparnya.

Peringatan Trump muncul saat perang memanas di Timur Tengah telah memicu lonjakan gila-gilaan pada harga energi global, terutama akibat gangguan lalu lintas pelayaran di titik sempit Selat Hormuz. Harga minyak global meroket tajam ke level US$108 per barel pada pekan ini. Di saat yang sama, krisis pasokan telah memicu harga diesel di AS memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa, menembus angka US$6 per galon pada hari Jumat lalu.

Rusia Mengamuk & Nyaris Bom Mantan Bos CIA

Di tengah teguran keras AS, perang udara antara Rusia dan Ukraina justru semakin tak terkendali. Pada Minggu dini hari, serangan drone Rusia menghantam sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di kota Yahodyn, wilayah barat laut Ukraina yang berbatasan langsung dengan Polandia. Ancaman yang terus berlanjut ini bahkan memaksa sebuah jaringan SPBU di ibu kota Kyiv untuk memasang kandang jaring di sekitar fasilitasnya guna meredam dampak ledakan.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha langsung mengecam keras insiden yang sempat membuat penyeberangan perbatasan-jalur vital pengiriman bantuan kemanusiaan dan militer Barat-ditutup sementara sebelum kembali beroperasi pada pukul 10 pagi waktu setempat.

"Serangan barbar Rusia di titik penyeberangan perbatasan Ukraina-Polandia di Yahodyn bukan sekadar kelanjutan dari serangannya di perbatasan negara kita. Ini adalah teror Putin yang 'mengetuk' langsung pintu UE dan NATO," ungkapnya.

Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski yang tengah berada di Kyiv memberikan peringatan keras atas memburuknya eskalasi di dekat perbatasan negaranya.

"Rusia melancarkan serangan menggunakan pesawat tak berawak yang ditingkatkan, dilengkapi dengan mesin jet dan sistem panduan yang disempurnakan. Ini adalah sebuah eskalasi. Ini merupakan tantangan besar lainnya bagi Ukraina, tetapi juga bagi calon korban agresi Rusia di masa depan," tuturnya.

Lebih mengerikan lagi, Perusahaan Kereta Api Ukraina melaporkan bahwa sebuah lokomotif kereta penumpang juga dihantam drone Rusia yang hanya berjarak dua kilometer dari perbatasan Polandia. Sesaat sebelum serangan mematikan itu, sebuah kereta diplomatik yang membawa penasihat keamanan Uni Eropa dan mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tengah berada di stasiun Yahodyn.

Pada saat yang sama, kereta lain di stasiun tersebut juga ditumpangi oleh mantan direktur CIA David Petraeus.

Pihak Kereta Api Ukraina menyatakan sangat mungkin drone Rusia tersebut sengaja menargetkan kereta diplomatik, yang untungnya telah diberangkatkan lebih awal dari jadwal demi menghindari ancaman. Boris Johnson pun mengutuk keras serangan tanpa ampun yang menargetkan kereta sipil ini sekaligus memuji keberanian ratusan pegawai perkeretaapian yang telah gugur sejak invasi 2022.

"Saya tidak tahu logika menyimpang apa yang mendorong Putin untuk meledakkan lokomotif Ukraina yang sedang berhenti di perbatasan Polandia pagi ini. Apa yang dapat kita katakan dengan pasti adalah bahwa ini adalah jenis serangan acak dan tidak masuk akal yang dialami warga Ukraina setiap hari - bahkan di jalur kereta sipil," tegasnya.

Mantan PM Swedia Carl Bildt, yang saat itu baru saja menghadiri konferensi keamanan (YES) di Kyiv, turut membagikan kengerian serangan tersebut melalui akun X-nya dengan mengunggah video saat para penumpang dievakuasi.

"Ini bukan kereta kami, tetapi kereta yang melintas beberapa menit setelah kami di penyeberangan perbatasan Polandia," ucapnya.

Presiden Ukraina Zelensky membeberkan bahwa dalam sepekan terakhir saja, Rusia telah menembakkan lebih dari 2.000 drone ke Ukraina, dengan mayoritas berupa model bertenaga jet yang jauh lebih cepat dan sulit untuk dicegat. Menanggapi hal ini, Kementerian Pertahanan Rusia (via TASS) berdalih bahwa gempuran ke infrastruktur kereta api di wilayah barat Ukraina itu bertujuan murni untuk memutus transportasi kargo militer dari negara-negara Eropa.

Balasan Ukraina & Kepanikan Radar NATO

Sebagai aksi balasan, militer Ukraina mengeklaim sukses menghantam kilang minyak TANECO di kota Nizhnekamsk, Republik Tatarstan, Rusia pada Minggu dini hari. Operasi gabungan Pasukan Khusus, Dinas Keamanan (SBU), dan Intelijen Utama Ukraina ini dilaporkan oleh pejabat Tatarstan menewaskan dua warga sipil dan melukai sejumlah orang lainnya.

Ketegangan perang udara yang terus meluas ini praktis memicu kepanikan tingkat tinggi di negara-negara NATO yang berbatasan dengan Ukraina. Pada hari Minggu, otoritas Lituania terpaksa menutup sementara bandara Vilnius dan NATO menerbangkan setidaknya satu jet tempur usai radar mendeteksi penampakan drone tak dikenal di wilayah udaranya.

Status siaga udara tersebut akhirnya dicabut setelah jet tempur NATO mengidentifikasi bahwa penampakan asing itu hanyalah kawanan burung. Ironisnya, alarm peringatan serupa juga sempat dipicu oleh kawanan burung di wilayah Polandia pada pekan sebelumnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Ngamuk ke Ukraina, Sempat Siapkan Serangan-Bakal Bom 3 Titik


Most Popular
Features