Trump Lempar Senjata Makan Tuan, Warga AS Tercekik Harga BBM Tinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bahan bakar diesel atau solar di Amerika Serikat (AS) meroket menembus rekor US$6 (Rp106.200) per galon pada hari Jumat untuk pertama kalinya dalam sejarah. Lonjakan ekstrem ini dipicu oleh gangguan pasokan bahan bakar akibat berkecamuknya perang di Ukraina dan Iran, yang secara berantai mengerek biaya transportasi di seluruh sektor ekonomi.
Mengutip CNBCÂ International, Jumat (11/09/2026), data dari AAA mencatat bahwa para pengemudi truk dan petani kini harus membayar sekitar 63% lebih mahal untuk mengisi bahan bakar traktor dan kendaraan mereka dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rata-rata harga nasional kini bertengger di US$6,05 (Rp107.184) per galon, bahkan di California yang merupakan negara bagian pertanian terbesar di AS, harganya meledak hingga US$7,98 (Rp141.293) per galon.
Krisis harga solar ini terjadi seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah akibat eskalasi tajam pertempuran antara AS dan Iran pada bulan ini. Kontrak berjangka minyak mentah AS bahkan telah menembus angka US$100 (Rp1.770.000) per barel pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak Mei, mencatatkan kenaikan sekitar 20% di bulan September.
Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, menegaskan bahwa diesel sejatinya merupakan urat nadi perekonomian, meskipun konsumen biasanya lebih memperhatikan harga bensin eceran. Tingginya harga solar langsung ditransmisikan ke konsumen melalui lonjakan harga makanan, barang konsumsi, hingga energi.
Pasalnya, solar menjadi bahan bakar utama bagi truk, kereta api, kapal, mesin pertanian, hingga pembangkit listrik.
"Ini adalah bahan bakar yang lebih berbahaya, lebih mahal, dan lebih berdampak. Saat harganya merangkak naik, ini menjadi kekhawatiran yang nyata," paparnya.
Kepala Analisis Minyak Bumi di GasBuddy, Patrick De Haan, turut memperingatkan bahwa harga solar di level saat ini akan menjadi pembunuh senyap bagi perekonomian. Di sisi lain, harga bensin juga memecahkan rekor Labor Day di angka US$4,15 (Rp73.455) per galon pada awal pekan ini. Warga AS kini diperkirakan menghabiskan sekitar US$700 juta (Rp12,39 triliun) lebih banyak per hari untuk bensin dan solar dibandingkan tahun lalu.
"Ada kejutan harga di sana bagi konsumen," ucapnya.
Melonjaknya biaya ini adalah imbas langsung dari perang Ukraina dan Iran yang melumpuhkan pasokan global. Ukraina terus menggempur kilang-kilang Rusia, memaksa Moskow melarang ekspor diesel. Di sisi lain, Iran dan sekutu militan Houthi di Yaman ikut menyerang kilang milik sekutu Teluk AS, sementara ekspor lewat Selat Hormuz tersumbat akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker.
Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, menyatakan bahwa konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah ini telah mematikan kapasitas kilang sekitar 5 juta barel per hari. Hal ini diperparah dengan pernyataan Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, yang mencatat bahwa dunia kini telah kehilangan hampir 8% pasokan dieselnya dengan minimnya kapasitas penyulingan cadangan untuk menutupi defisit tersebut.
Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai badai kenaikan harga ini menjadi tantangan luar biasa bagi pemerintahan Donald Trump.
"Kilang-kilang AS beroperasi pada tingkat utilisasi 98%-sama sekali tidak ada kapasitas cadangan," tegasnya.
(tps/luc)