Internasional

Misteri Pesawat Amazon Jatuh: Rekaman Kokpit Ungkap Fakta Mengejutkan

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 10/09/2026 20:30 WIB
Foto: Para penyelidik dari National Transportation Safety Board (NTSB) memeriksa lokasi tempat pesawat kargo Amazon Prime Air melampaui batas landasan pacu di Bandara Internasional Miami, Florida, AS, dalam tangkapan layar yang diambil dari video rilis pada 8 September 2026. (via REUTERS/National Transportation Safety B)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat mengungkapkan fakta mengejutkan di balik jatuhnya pesawat kargo Amazon Prime Air di Miami pada Minggu (6/9/2026). Salah satu pilot diketahui sempat memperingatkan bahwa pesawat terbang "terlalu cepat" lebih dari satu menit sebelum akhirnya mendarat secara tragis, menyapu landasan, dan menewaskan lima orang.

Pesawat Boeing 767 berusia 32 tahun yang dioperasikan oleh maskapai 21 Air yang berbasis di Miami itu akhirnya tergelincir melewati landasan pacu sejauh 1.300 kaki (396 meter) dan menabrak dua kendaraan di darat, menewaskan lima orang serta melukai lima lainnya.

Mengutip Reuters, Kamis (10/09/2026), rekaman suara kokpit menunjukkan bahwa peringatan dari salah satu pilot tersebut nyatanya diabaikan, dan pilot lainnya tidak memberikan respons lisan yang jelas.


NTSB memerinci bahwa sebelum pesawat mendarat, alarm otomatis berbunyi peringatan "tingkat penurunan, tingkat penurunan" sebanyak dua kali di kokpit. Hal ini terjadi karena pesawat sempat turun drastis sejauh 400 kaki hanya dalam waktu empat detik, yang kemudian langsung disusul oleh lima rentetan peringatan "medan terlalu rendah".

Konsultan Keselamatan Dirgantara, Anthony Brickhouse, mempertanyakan keputusan fatal kru dalam mengabaikan alarm peringatan yang berulang kali berbunyi tersebut.

"Pertanyaan besarnya adalah, mengapa mereka melanjutkan pendaratan? Mereka memiliki beberapa petunjuk bahwa pendaratan mereka tidak stabil, tetapi mereka terus melanjutkannya alih-alih berputar kembali," paparnya.

Data penerbangan menunjukkan bahwa 15 detik setelah mendarat, salah satu pilot sempat menyerukan pembatalan pendaratan dan tuas mesin dinaikkan ke nilai yang konsisten dengan daya dorong go-around. Saat itu, pesawat telah mendekati ujung landasan pacu tetapi masih melaju dengan kecepatan 120 knot (222 km/jam).

Nahas, empat detik kemudian, tuas justru dikurangi ke daya diam dan terdengar suara pesawat keluar dari permukaan landasan beraspal. NTSB juga tidak menemukan indikasi bahwa rem kecepatan atau pendorong balik dikerahkan untuk membantu memperlambat laju pesawat.

Brickhouse menilai insiden tragis ini merupakan kegagalan total dalam hal komunikasi krusial antar kru di dalam kokpit.

"Dari apa yang saya lihat sejauh ini, pasti ada kerusakan dalam manajemen sumber daya kru. Jadi sebagai penyelidik, saya ingin tahu dengan banyaknya petunjuk yang tersedia, apa motivasi mereka? Apa proses berpikir mereka? Mengapa mereka melanjutkan pendaratan itu alih-alih berputar kembali?" ungkapnya.

Sebagai informasi, penyelidik NTSB telah mewawancarai kapten dan perwira pertama pada Rabu sebelum merilis rincian kotak hitam. Kecelakaan maut ini merupakan penerbangan ketiga pesawat Amazon tersebut di hari yang sama, usai mengudara dari Cincinnati ke Miami, dan terbang dari Miami ke San Juan, Puerto Riko.

Terkait jam terbang, NTSB mencatat kapten berusia 55 tahun baru menerima kualifikasi tipe 767 pada bulan Mei dengan rekam jejak 7.145 jam terbang. Sementara perwira pertama berusia 37 tahun menerima kualifikasinya pada April 2025 dengan 2.655 jam terbang. Pihak 21 Air hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait rilis investigasi awal NTSB ini.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: 5 Tewas, Pesawat Kargo Amazon Tergelincir di Miami