Perajin Tahu Tempe Beri Kabar Harga Kedelai Impor Naik, Ada Apa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 10/09/2026 17:35 WIB
Foto: Pekerja membuat tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kedelai di dalam negeri justru mengalami kenaikan ketika harga komoditas tersebut di pasar global sedang melemah. Kondisi ini menjadi anomali karena nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) juga disebut belum menyentuh level Rp18.000.

Berdasarkan hasil pemantauan terkini menunjukkan rata-rata harga kedelai impor secara nasional per 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kg. Harga tersebut berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp12.000 per kg.

Di saat yang sama, harga kedelai global justru turun. Trading Economics pada 9 September mencatat harga kedelai berada di US$12,90 per bushel, menjadi level terendah dalam lebih dari sepekan.


Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo menyebut kenaikan harga kedelai belakangan ini memang terjadi di tingkat importir. Padahal, menurutnya, harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) sedang turun dan nilai tukar dolar AS juga belum menembus Rp18.000.

"Memang beberapa hari ini ada kenaikan ya. Beberapa hari ini ada kenaikan di tingkat importir. Padahal dolar kan tidak menyentuh Rp18.000 ya, harga di CBOT juga turun," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/9/2026).

Adapun data harga delivery order (DO) importir yang dikelola Gakoptindo, juga menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah importir dalam sepekan terakhir. Pada 9 September 2026, misalnya, harga kedelai merek Bola Merah dan Hiu di Cigading masing-masing berada di Rp10.700 per kg, naik Rp100 per kg dari 2 September. Sementara harga 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.900 per kg.

Harga di Jawa Masih di Bawah HAP

Meski secara nasional harga kedelai impor sudah berada di atas HAP, kondisi di wilayah Jawa masih relatif lebih rendah. Wibowo mengatakan, harga kedelai di Jawa masih berada di bawah Rp12.000 per kg. Padahal, Jawa merupakan pasar terbesar bagi kedelai yang digunakan untuk produksi tahu dan tempe.

"Memang harga di nasional sekitar Rp13.000 ribuan per kg, tapi itu di tempat yang terjauh ya. Rata-rata sih kalau di Pulau Jawa dia masih di bawah Rp12.000 (per kg). Itu situasinya," ungkap dia.

Data Gakoptindo per 10 September 2026 menunjukkan harga kedelai di tingkat perajin tahu tempe di Jawa Barat berada di kisaran Rp11.200-Rp11.750 per kg, Jawa Tengah Rp11.300-Rp11.750 per kg, Jawa Timur Rp11.250-Rp11.550 per kg, sedangkan DKI Jakarta berada di kisaran Rp11.400-Rp11.850 per kg.

Namun, harga di sejumlah wilayah luar Jawa sudah lebih tinggi. Di Aceh, misalnya, harga kedelai merek Bola Merah mencapai Rp13.200 per kg. Sumatra Utara mencapai Rp12.950 per kg, Sumatra Barat Rp12.950 per kg, Kalimantan Timur Rp12.900 per kg, dan Sulawesi Selatan Rp12.950 per kg.

Pekerja membuat tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pekerja membuat tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Biang Kerok Anomali

Lantas, mengapa harga kedelai di dalam negeri justru naik ketika harga global turun?

Menurut Wibowo, persoalannya karena pemerintah tidak menguasai stok kedelai. Akibatnya, harga di dalam negeri sangat bergantung pada pihak yang memiliki barang.

"Karena kita nggak menguasai pasar. Pemerintah tidak punya barang," jelasnya.

Ketika ditanya apakah kondisi tersebut membuat harga pada akhirnya ditentukan oleh importir, Wibowo membenarkannya.

"Iya betul sekali. Itu jawabannya," tutur dia.

Ia menuturkan, kondisi stok kedelai saat ini memang disebut masih aman berdasarkan informasi dari importir. Namun, pemerintah tidak memiliki kendali langsung atas barang tersebut.

"Ya intinya kan karena kita nggak kuasai barang, tergantung siapa yang punya barang mengatakan. Yang punya barang mengatakan 'oh stok ada', ya berarti pemerintah merasa ini aman-aman saja. Tapi ketika suatu saat dikatakan tidak ada, ya baru ramai kan, biasanya begitu situasinya," terang Wibowo.

Dia menilai kondisi tersebut menunjukkan pemerintah masih belum memiliki penguasaan yang kuat terhadap komoditas kedelai nasional.

"Dengan kata lain ya pemerintah belum mampu menguasai untuk untuk sektor yang ini. Tapi ya sudah berupaya ya dengan akan diadakannya proses penanaman," ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gakoptindo mendorong pemerintah merealisasikan cadangan kedelai pemerintah. Wibowo menyebut ketentuan mengenai Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk komoditas kedelai sebenarnya sudah ada, tetapi implementasinya belum berjalan.

"Iya itu kan sudah ditentukan. Sudah ada ketetapannya itu, CPP. Tapi sampai saat ini kan belum ada realisasinya. Ya kita sih mendorong Bulog untuk (punya CPP) itu. Tapi sampai saat ini belum ada," kata dia.

Dengan belum adanya CPP kedelai, Gakoptindo menilai pemerintah belum memiliki instrumen stok yang dapat digunakan untuk mengantisipasi gejolak harga ketika terjadi kenaikan di tingkat importir.

Di sisi lain, Wibowo memastikan berdasarkan informasi yang diterima Gakoptindo, stok kedelai saat ini masih tersedia.

"Kalau menurut informasinya dari mereka (importir), saat ini stok kedelai ya aman," ucapnya.

Meski demikian, persoalan harga masih menjadi perhatian karena kenaikan tersebut terjadi ketika harga kedelai global justru sedang melemah.


(wur/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BSI Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah