MARKET DATA

Fenomena 11 Gunung Api di RI Erupsi-Termasuk Anak Krakatau, Rekayasa?

Redaksi,  CNBC Indonesia
10 September 2026 06:35
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, perwakilan BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melakukan pemantauan langsung aktivitas Gunu
Foto: Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, perwakilan BPBD Provinsi Lampung, Basarnas, serta Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melakukan pemantauan langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau dari KRI Lepu-861 milik TNI Angkatan Laut. (Instagram/ BPBD Lampung)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat, sepanjang tahun 2026 hingga saat ini, ada 11 gunung api di Indonesia yang aktif mengalami erupsi. 5 di antaranya berstatus Siaga (Level III), sedangkan 6 lainnya berstatus Waspada (Level II).

Lantas, apa pemicu fenomena erupsi gunung-gunung api tersebut? Kenapa bisa terjadi di tahun yang sama?

Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Badan Geologi menyebut pengaruh jalur cincin api atau Ring of Fire.

"Jalur cincin api yang terbentang dari Sumatra hingga Maluku Utara menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi bencana erupsi gunung api terbesar di dunia," tulis Badan Geologi, dikutip Kamis (10/9/2026).

Meski begitu, warga Indonesia diminta tetap tenang meski waspada.

"Mitigasi dan monitoring terus diupayakan oleh Badan Geologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi bahaya dari erupsi gunung api di Indonesia," kata Badan Geologi.

"Jangan panik, tetap waspada," demikian imbauan Badan Geologi.

Rekayasa Alamiah Bukan Buatan Manusia

Terpisah, Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan, erupsi gunung api terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya yang lebih rendah dibandingkan batuan sekitar, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

"Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal, sehingga tidak ada gelombang magnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," jelas Daryono, dikutip Kamis (10/9/2026).

"Kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire juga menjelaskan mengapa aktivitas vulkanik terjadi secara intensif dan kerap beruntun," sambungnya.

Indonesia, imbuh dia, merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama dunia. Seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua, terangnya, membawa air dan sedimen basah ke kedalaman mantel, memicu pelelehan batuan mantel. Dan, menghasilkan suplai magma secara terus menerus selama jutaan tahun.

"Ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi pascagempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah dalam kondisi kritis dapat terpicu secara hampir bersamaan," terang Daryono.

"Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu. Bukti ilmiah lainnya terlihat dari adanya sinyal prekursor geofisika yang selalu mendahului setiap peristiwa erupsi," tukasnya.

Tak hanya itu, cetus Daryono, erupsi gunung api tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis. Melainkan, diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik.

"Proses geologi yang cukup lama, tidak seperti membalik tangan," ucapnya.

"Selain itu, instrumen geodesi presisi seperti GPS dan sensor tilimeter mencatat adanya deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api jauh sebelum letusan terjadi. Disertai dengan perubahan rasio konsentrasi gas kimia dan peningkatan suhu," paparnya.

Karena itu, tukasnya, narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar.

"Mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," kata Daryono.

"Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1200 derajat Celsius. Dan, sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme interaksi fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman," ujar Daryono.

Daftar 11 Gunung Api RI yang Erupsi Tahun 2026

Berikut daftar gunung api yang erupsi tahun 2026 dan berstatus Siaga:

- Gunung Anak Krakatau: 243 kali erupsi/letusan
- Gunung Lewotobi Laki-laki: 790 kali erupsi/letusan
- Gunung Semeru: 20.326 kali erupsi dan 55 kali awan panas
- Gunung Merapi: 115 kali awan panas
- Gunung Sinabung: 2 kali erupsi/letusan.

Sedangkan yang berstatus Waspada adalah:

- Gunung Ili Lewotolok: 24.442 kali erupsi/letusan
- Gunung Ibu: 25.556 kali erupsi /letusan
- Gunung Dukono: 8.216 kali erupsi/letusan
- Gunung Marapi: 51 kali erupsi/letusan
- Gunung Dempo: 3 kali erupsi/letusan
- Gunung Karangetang: 1 kali erupsi/letusan.

Sebagai catatan, ini adalah data per 8 September 2026, sebagaimana tanggal unggahan @badan.geologi.

Erupsi Gunung Ili Lewotolok terjadi pada hari Minggu, 6 September 2026, pukul 21.37 WITA. (X/@badangeologi_)Erupsi Gunung Ili Lewotolok terjadi pada hari Minggu, 6 September 2026, pukul 21.37 WITA. (X/@badangeologi_) Foto: Erupsi Gunung Ili Lewotolok terjadi pada hari Minggu, 6 September 2026, pukul 21.37 WITA. (X/@badangeologi_)

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Status Tetap Siaga-Jauhi Lokasi Ini


Most Popular
Features