FOTO Internasional

48 Jam Tanpa Listrik, Warga Ngamuk dan Tuntut Presiden Lengser

Reuters, CNBC Indonesia
Rabu, 09/09/2026 05:30 WIB

Listrik padam hingga 48 jam memicu kerusuhan di Gambia. Warga turun ke jalan dan menuntut presiden lengser, sementara polisi membubarkan massa.

1/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

Warga turun ke jalan dalam aksi demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, Selasa (8/9/2026). Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang berkumpul sepanjang malam di sejumlah lokasi, termasuk di dekat kediaman resmi Presiden Adama Barrow. Demonstrasi tersebut dipicu kemarahan masyarakat akibat krisis pasokan listrik yang berkepanjangan di negara Afrika Barat itu. (REUTERS/Malick Njie)

2/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

Di ibu kota Banjul dan sekitarnya, massa membakar ban dan memasang barikade di jalan sambil meneriakkan "Barrow harus lengser!". Sejumlah warga melaporkan pemadaman listrik berlangsung hingga 48 jam. Aksi serupa juga terjadi di Farato, dengan pengunjuk rasa berkumpul di luar kediaman Wakil Presiden Mohammed B.S. Jallow dan merusak spanduk di kantor partai berkuasa National People's Party. (REUTERS/Malick Njie)

3/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

Krisis listrik tersebut terjadi menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan pada Desember, saat Barrow berupaya meraih masa jabatan ketiga. Juru bicara kepolisian tidak menanggapi permintaan komentar pada Selasa (8/9/2026). (REUTERS/Malick Njie)

4/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

Perusahaan listrik nasional National Water and Electricity Company Ltd (NAWEC) mengatakan lonjakan permintaan listrik akibat suhu udara tinggi serta insiden teknis pada salah satu unit pembangkit utama menyebabkan gangguan pasokan. Kondisi tersebut memaksa perusahaan menerapkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah. (REUTERS/Malick Njie)

5/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

"Tidak ada listrik di mana-mana. Tidak ada listrik. Orang-orang terus mengeluhkan masalah listrik ini," ujar Ousainu Jammeh, warga kawasan Westfield di Banjul. Ia mengatakan bergabung dengan demonstran setelah gas air mata jatuh di rumahnya. (REUTERS/Malick Njie)

6/6 Warga melakukan protes di jalanan dalam sebuah demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, pada 8 September 2026. (REUTERS/Malick Njie)

Barrow dijadwalkan mengunjungi fasilitas NAWEC pada Selasa pagi dan menyampaikan pidato kepada rakyat pada pukul 20.00 waktu setempat. Setelah aksi mereda menjelang fajar, sejumlah pemuda memadamkan api dan menyingkirkan barikade. Arus lalu lintas di Banjul kembali normal pada Selasa pagi. (REUTERS/Malick Njie)