Pertamina Jaga Kecukupan Energi di Wilayah Timur Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) terus memastikan kesiapan infrastruktur dan distribusi energi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan dan BBM di wilayah Indonesia Timur. Sebab di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara ketersediaan energi menjadi salah satu fondasi untuk mendukung konektivitas dan pergerakan ekonomi masyarakat.
Upaya tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan Direktur Manajemen Risiko Pertamina Ahmad Siddik Badruddin ke sejumlah fasilitas operasi Pertamina di Ternate, Maluku Utara, Selasa (1/9). Dalam kunjungan tersebut, Siddik meninjau langsung kesiapan operasional sekaligus mengevaluasi kapasitas infrastruktur energi dalam mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi di wilayah tersebut.
Kunjungan diawali dengan peninjauan Aviation Fuel Terminal (AFT) Baabullah yang berada di sekitar Bandara Sultan Babullah, Ternate. Fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan bahan bakar pesawat atau avtur bagi penerbangan yang beroperasi dari dan menuju Ternate.
"Terminal ini dikhususkan untuk menyuplai avtur untuk sekitar 15 penerbangan pesawat per hari yang masuk dan keluar dari Bandara Babullah," ujar Siddik dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, pertumbuhan aktivitas perekonomian di Maluku Utara berpotensi meningkatkan trafik penerbangan di Bandara Sultan Babullah. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui kesiapan infrastruktur dan pengembangan bisnis yang mampu menjawab pertumbuhan kebutuhan avtur ke depan.
"Kita mengevaluasi apakah AFT Babullah akan mampu memenuhi kebutuhan dari peningkatan penjualan ke depannya dan apa saja opsi-opsi yang bisa dilakukan untuk pengembangan bisnis," katanya.
Selain avtur, keberlanjutan pasokan BBM untuk masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem ketahanan energi di wilayah kepulauan. Untuk itu, Siddik melanjutkan kunjungan ke Fuel Terminal (FT) Ternate, fasilitas yang berperan dalam mendukung distribusi energi bagi masyarakat Ternate maupun sejumlah wilayah kepulauan di sekitarnya.
Di FT Ternate, evaluasi difokuskan antara lain pada kemampuan terminal dalam menerima pasokan melalui jalur laut dari Wayame untuk berbagai produk energi, serta pengembangan dan peningkatan fasilitas jetty sebagai bagian dari upaya memperkuat keandalan distribusi.
"Kita mengevaluasi kemampuan Fuel Terminal Ternate untuk menerima pengiriman kargo dari Wayame untuk berbagai produk dan juga sedang mereview apa perbaikan-perbaikan dari jetty ke depannya," ujar Siddik.
Siddik menilai, tantangan distribusi energi di wilayah Papua dan Maluku memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Kondisi geografis yang terdiri atas banyak pulau membuat distribusi energi membutuhkan perencanaan yang matang, terutama karena sebagian besar mobilisasi pasokan mengandalkan transportasi laut.
"Region Papua Maluku ini salah satu region yang paling challenging untuk melakukan amanah pendistribusian energi karena terdiri dari berbagai macam pulau di bagian Indonesia Timur," jelasnya.
Ketergantungan pada transportasi laut juga membuat kelancaran distribusi sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal, termasuk faktor cuaca. Karena itu, menurut Siddik, Pertamina perlu terus mengevaluasi kapasitas infrastruktur, pola distribusi, serta berbagai opsi pengembangan agar pasokan energi tetap terjaga secara efektif dan efisien.
Hal senada disampaikan Direktur Manajemen Risiko Pertamina Patra Niaga Rahman Pramono. Ia menegaskan bahwa pengelolaan energi di wilayah Papua dan Maluku tidak dapat hanya diukur dari aspek keekonomian, tetapi juga harus mempertimbangkan mandat Pertamina dalam menjaga ketahanan dan ketersediaan energi bagi masyarakat.
"Kita tidak bisa melihat hanya dari sisi profit saja. Kita ada tugas bagaimana menjaga ketahanan energi dari masing-masing wilayah, termasuk daerah yang memang butuh kebutuhan khusus," pungkasnya.
Kesiapan infrastruktur dan distribusi energi di wilayah kepulauan menjadi bagian penting dari upaya Pertamina menjaga kesinambungan pasokan energi nasional. Dengan karakteristik geografis Indonesia Timur yang menantang, penguatan fasilitas penyimpanan, penerimaan, dan penyaluran energi menjadi salah satu kunci agar aktivitas masyarakat, konektivitas antardaerah, serta pertumbuhan ekonomi dapat terus bergerak.
(rah/rah)