Anak Krakatau Muncul di Permukaan Laut Hampir 100 Tahun, Ini Jejaknya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 17:33 WIB
Foto: via REUTERS/PVMBG

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Api Anak Krakatau di Lampung terus mengalami erupsi panjang atau terus menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga terakhir pada Minggu (6/9/2026) malam. Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakteristik letusan ringan yang selama ini menjadi ciri aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, terjadi erupsi menerus yang disertai semburan lava menerus (lava fountain), suara gemuruh, dan dentuman. Erupsi tersebut berhenti pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

Fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat berkaitan dengan gelombang akustik berfrekuensi rendah dari erupsi yang dapat merambat jauh dalam kondisi atmosfer tertentu.


"Abu vulkanik juga terpantau menyebar menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin," tulis Badan Geologi dalam unggahan Instagram @badan.geologi, dikutip Senin (7/9/2026).

Lantas, bagaimana sejarah Gunung Anak Krakatau?

Gunung Api Anak Krakatau merupakan gunung api yang terus tumbuh di kawasan Kaldera Krakatau.

Badan Geologi mencatat sejarahnya:

  • 20 Januari 1929: Anak Krakatau mulai muncul dari permukaan laut
  • Oktober 1952: Terbentuk kerucut baru di dalam Kawah Somma
  • 22 Desember 2018: Erupsi besar yang menyebabkan longsoran dan tsunami
  • 2023: Seri erupsi berskala kecil terus berlangsung hingga 16 Desember 2023
  • 2 Juli 2026: Anak Krakatau kembali mengalami erupsi hingga Level III (Siaga)
  • 4 September 2026: Erupsi intensif dengan semburan lava, suara gemuruh, dan dentuman.

Pada 4-5 September 2026, suara dentuman dan getaran pada kaca pintu dilaporkan di sejumlah wilayah Jawa Barat. Kesesuaian waktu dengan erupsi Anak Krakatau dan sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Saat ini abu vulkanik Anak Krakatau terbawa angin khususnya ke wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Barat.

Anak Krakatau Akan Terus Erupsi

Pakar Vulkanologi Surono menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau secara alamiah masih berpotensi mengalami erupsi susulan. Fenomena tersebut merupakan bagian dari fase pertumbuhan fisik gunung pasca peristiwa longsor besar pada tahun 2018 lalu untuk membangun kembali struktur tubuh gunung yang utuh.

Surono yang akrab disapa Mbah Rono menjelaskan bahwa sebagai gunung api muda, Anak Krakatau membutuhkan waktu untuk membentuk tubuhnya kembali agar menjadi utuh. Ia menekankan bahwa akumulasi tekanan magma yang terjadi mengharuskan gunung tersebut melepaskan energi ke permukaan.

"Yang bahaya yang paling mungkin terjadi potensi masih tetap ada longsor gitu kan. Tapi tidak dalam waktu dekat ini kan baru kemarin 2018 kan. Perlu waktu lah untuk membentuk tubuh yang utuh kembali gitu kan. Oleh karena itu dia akan sering meletus dan sebagainya," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).

Mbah Rono menyebutkan bahwa frekuensi letusan yang intens merupakan cara alami gunung api untuk membangun struktur puncaknya menjadi lebih tinggi dan besar. Namun, kondisi ini sekaligus memperbesar kantong magma atau magmatic chamber yang berimbas pada peningkatan potensi kekuatan letusan di masa depan.

"Semakin besar Anak Krakatau otomatis dapur magma-nya gitu ya, Magmatic chamber-nya itu ya semakin besar. Kalau semakin besar ya potensi letusannya akan besar gitu kan," tambahnya.

Proses pembentukan fisik Anak Krakatau melibatkan pengeluaran material baru yang mayoritas akan jatuh di sekitar puncak serta tubuh gunung tersebut. Meskipun material berat tertahan di area kawah, dampak yang paling dirasakan oleh wilayah sekitarnya adalah sebaran abu halus yang terbawa mengikuti arah dan kecepatan angin.

"Harus lepas, mengeluarkan material baru, jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi. Nah abu-abu halus yang memang tersebar tinggi itu konsekuensi dari setiap letusan gunung api seperti itu," paparnya.

Mbah Rono menilai risiko erupsi tersebut menjadi perhatian besar publik karena posisi geografi gunung yang berdekatan dengan objek vital strategis nasional seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Raden Inten. Ia memprediksi gangguan operasional transportasi udara akibat paparan debu vulkanik masih berpotensi terjadi kembali di masa mendatang.

"Nah sekarang ini Soekarno-Hatta terkena gitu kan Nah pasti akan terkena kembali di kelak kemudian hari nah ini jadi masalah ya kan. Bukan saya menakut-nakuti tapi sesuatu yang sudah kena sekarang ini potensi kena kembali gitu kan," tambahnya.

Perihal maraknya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung lain seperti Semeru, Merapi, hingga Gunung Ibu secara bersamaan, dia memastikan fenomena tersebut dipicu oleh kantong magma yang berbeda-beda. Rentetan letusan yang terjadi serentak di berbagai wilayah Indonesia murni merupakan faktor kebetulan dan bukan berasal dari satu sistem geologi yang sama.

"Sebetulnya kan itu hal yang biasa saja karena gunung kita terlalu banyak kebetulan aja bersamaan Tapi pada dasarnya mereka punya sumber magma yang berbeda-beda Dan sumber tekanan yang berbeda-beda," jelasnya.

Pemerintah sejatinya telah menyediakan peta kawasan rawan bencana sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam melakukan penataan wilayah. Mbah Rono menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki hak penuh dalam mengatur aktivitas masyarakat di lapangan berdasarkan rekomendasi teknis yang diberikan oleh para ahli geologi.

"Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah menyikapi laporan aktivitas Gunung Api tersebut Berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Pramono Anung Minta Warga Jakarta Tetap Waspada Hadapi Abu Vulkanik