5 Gunung Api di RI Serentak Erupsi, Ini Penjelasan Mbah Rono

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 13:35 WIB
Foto: Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono. (Dok Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sedang dikepung bencana alam erupsi gunung api. Diantaranya Gunung Anak Krakatau, Gunung Sinabung, Gunung Merapi, Gunung Ibu hingga Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pakar Vulkanologi Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono menjelaskan analisisnya terkait fenomena alam yang melibatkan banyak gunung api tersebut. Ia menegaskan bahwa rentetan erupsi saat ini bukan merupakan satu kesatuan sistem, melainkan aktivitas mandiri dari masing-masing gunung.

"Sebetulnya kan itu hal yang biasa saja karena gunung kita terlalu banyak kebetulan aja bersamaan. Tapi pada dasarnya mereka punya sumber magma yang berbeda-beda dan sumber tekanan yang berbeda-beda," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).


Mbah Rono memaparkan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini sedang dalam fase pertumbuhan alami untuk membentuk tubuh gunung setelah peristiwa longsor besar pada tahun 2018. Akumulasi tekanan magma yang terus menerus memaksa gunung tersebut meletus guna mengeluarkan material baru yang akan menumpuk di sekitar puncaknya.

"Harus secara alami dia harus melakukan ini si Anak Krakatau ini karena dia itu secara alami akan membentuk tubuhnya. Magma kan supply terus menerus, mesti terjadi akumulasi tekanan dia harus lepas. Harus lepas, mengeluarkan material baru, jatuh di sekitar tubuhnya maka si anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi," jelasnya.

Terkait dampak erupsi yang sempat mengganggu operasional Bandara Soekarno-Hatta dan Raden Inten, hal tersebut dipicu oleh sebaran abu halus yang terbawa arah angin. Mbah Rono menilai risiko erupsi menjadi terlihat tinggi karena adanya objek vital strategis nasional yang berada di dalam jangkauan paparan debu vulkanik tersebut.

"Letusan ini andaikan di sekitarnya tidak ada objek vital strategis sebetulnya tidak menjadi geger seperti ini. Dampak langsung kepada manusia, hanya ini kan risikonya menjadi tinggi karena ada objek vital strategis yang tidak jauh dari jangkauan Anak Krakatau gitu aja," tambahnya.

Kepanikan yang terjadi di tengah masyarakat dinilai muncul akibat kurangnya sosialisasi yang konsisten terkait langkah antisipasi jika terjadi peningkatan status gunung api. Mbah Rono meminta koordinasi antara pemerintah daerah dan BNPB terus diperkuat agar informasi mengenai tindakan darurat dapat tersampaikan dengan baik kepada warga terdampak.

"Kepanikan itu ada karena kejadiannya kan tidak setiap hari. Tidak mendengar informasi harus berbuat apa jika terjadi kesulitan seperti itulah gitu ya," tandasnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Bank Lampung Hadirkan Produk UMKM Binaan di Lampung Financial Festival