Gunung Anak Krakatau Ternyata Harus Sering Erupsi, Ini Kata Mbah Rono

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 12:55 WIB
Foto: via REUTERS/PVMBG

Jakarta, CNBC Indonesia - Pakar gunung api Surono yang akrab disapa Mbah Rono memproyeksikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan terus berlangsung secara alami. Erupsi tersebut diperlukan untuk membantu Anak Krakatau membentuk kembali tubuh gunungnya.

Menurut Mbah Rono, pasokan magma yang terus-menerus masuk ke dalam tubuh gunung akan menyebabkan akumulasi tekanan. Tekanan tersebut kemudian harus dilepaskan melalui erupsi dengan mengeluarkan material vulkanik.

"Secara alami dia harus melakukan ini karena dia itu secara alami akan membentuk tubuhnya dan magma supply terus menerus mesti terjadi akumulasi tekanan dia harus lepas," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).


Ia menjelaskan, material yang dikeluarkan saat erupsi akan jatuh di sekitar tubuh Anak Krakatau. Material tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembentukan gunung sehingga secara bertahap Anak Krakatau dapat kembali tumbuh semakin besar dan tinggi.

"Jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi Nah abu-abu halus yang memang tersebar tinggi itu konsekuensi dari setiap letusan gunung api seperti itu," ujarnya.

Aktivitas Erupsi Menurun

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, setelah mengalami episode erupsi menerus selama 25 jam, Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung kembali menunjukkan aktivitas erupsi dengan pola letusan ringan yang terjadi secara berkala. Meski episode erupsi panjang telah berakhir, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau karena tingkat kegempaan masih tinggi.

Bagi masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena berkaitan dengan potensi bahaya erupsi. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekat atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakteristik letusan ringan yang selama ini menjadi ciri aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut," ujar Lana Saria di Bandung, Senin (7/9).

Meski episode erupsi menerus telah berakhir, pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026 masih merekam dinamika kegempaan yang tinggi. Tercatat:

  • 3 kali gempa erupsi
  • 9 kali gempa hembusan
  • 93 kali gempa low frequency
  • 98 kali gempa hybrid/fase banyak
  • 4 kali gempa tremor menerus
  • 1 kali gempa vulkanik dangkal

Kondisi tersebut membuat tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). Lana Saria menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi.

"Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," jelas Lana.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Erupsi Anak Krakatau, KAI Tambah Perjalanan Surabaya-Jakarta