MARKET DATA
Internasional

Putin Kasih Sinyal Damai, Bos NATO Sebut Rusia Makin Brutal

tps,  CNBC Indonesia
04 September 2026 08:05
Sebuah ledakan di kota saat serangan rudal Rusiadi tengah serangan Rusia terhadap Ukrainadi Kyiv, Ukraina, pada 20 Agustus 2026. (REUTERS/Gleb Garanich)
Foto: Sebuah ledakan di kota saat serangan rudal Rusia—di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina—di Kyiv, Ukraina, pada 20 Agustus 2026. (REUTERS/Gleb Garanich)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin secara mengejutkan memberikan sinyal bahwa ada peluang untuk berdamai dengan Ukraina. Namun, di saat yang sama, ia kembali menegaskan bahwa peringatan Kyiv kepada maskapai penerbangan untuk menghindari wilayah udara Rusia adalah bentuk terorisme negara.

Mengutip CNBC International, Kamis (3/9/2026), Putin menekankan bahwa penyelesaian konflik sepenuhnya berada di tangan negara yang bertikai. Ia sendiri menilai masih ada peluang untuk berdamai dengan Kyiv.

"Pada akhirnya... masalah tersebut harus diselesaikan oleh negara-negara yang terlibat dalam konflik, yakni Rusia dan Ukraina. Apakah ada peluang (untuk berdamai)? Dalam pandangan saya, ya, ada," paparnya saat berpidato di Forum Ekonomi Timur di Vladivostok, Rusia Timur.

Komentar ini muncul saat upaya untuk menengahi akhir dari perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu tengah menemui jalan buntu akibat perpecahan soal wilayah, jaminan keamanan, dan penyelarasan militer. Merespons dinamika ini, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan keyakinannya bahwa kini akan ada dinamika baru dalam upaya perdamaian seiring dengan kembalinya fase aktif keterlibatan politik dan diplomatik di berbagai negara.

Walau begitu, upaya AS dan Eropa untuk membawa kedua belah pihak menuju kesepakatan sejauh ini masih gagal, meskipun Direktur CIA AS John Ratcliffe dilaporkan telah melakukan kunjungan rahasia ke Moskow pekan lalu untuk memperingatkan Rusia agar tidak melakukan eskalasi.

Intervensi luar negeri lainnya datang dari Perdana Menteri India Narendra Modi yang mendesak Putin untuk menjauh dari "perang tanpa akhir" dan mengejar perdamaian.

Peringatan Keras NATO

Di sisi lain, penilaian damai Putin sangat kontras dengan peringatan tajam dari NATO mengenai aktivitas militer dan hibrida Rusia di sekitar sayap timur aliansi tersebut. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, secara tegas menyebut Rusia kini menjadi semakin sembrono. Ia menyoroti rentetan rudal dan drone yang melintasi Eropa timur serta dugaan serangan hibrida Rusia di bandara Leipzig, Jerman, bulan lalu.

"Bahaya yang ditimbulkan Rusia sudah jelas, dan kami bekerja sepanjang waktu untuk memastikan bahwa kami siap menjaga keselamatan rakyat kami. Jika Rusia berpikir kami akan terpecah belah oleh ancaman, atau jika mereka berpikir kami akan terhalang untuk mendukung Ukraina, mereka salah," tegasnya dalam konferensi pers bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Ketegangan udara juga kian memanas setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada hari Selasa mendesak maskapai penerbangan untuk menghindari wilayah udara Rusia karena maraknya perluasan operasi drone jarak jauh Ukraina, termasuk serangan ke infrastruktur energi dan militer. Ia menyebut langit Rusia kini menjadi benar-benar tidak aman.

Merespons hal tersebut, Putin mengecam keras dan menyebut ancaman itu sama dengan deklarasi terorisme negara, seraya bersumpah bahwa Rusia akan semakin mengintensifkan serangannya.

Saat ini, Kyiv memang kian agresif menggunakan drone produksi dalam negeri untuk menyerang target di luar garis depan demi meningkatkan beban biaya ekonomi dan militer bagi serangan Rusia. Sementara itu, pasukan Rusia tak kalah beringas dengan terus meningkatkan serangan rudal ke kota-kota Ukraina di tengah krisis kekurangan peralatan pertahanan udara yang dialami Kyiv.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin Bikin Kaget! Tiba-Tiba Bicara Damai dengan Ukraina, Perang End?


Most Popular
Features