Internasional

"Taksi Hijau" Vietnam Siap Serbu AS-Eropa, Bidik IPO Rp354 Triliun

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 03/09/2026 16:20 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Operator taksi listrik asal Vietnam, Green and Smart Mobility (GSM), bersiap memperluas bisnis ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Ekspansi ini dilakukan menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong pada 2028.

Perusahaan yang merupakan mitra produsen mobil Vietnam, VinFast, itu akan mengerahkan armada di AS, Swedia, dan Belanda hingga akhir 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari ambisi GSM membawa bisnis taksi listriknya ke pasar global, setelah perusahaan dengan cepat memperbesar pangsa pasar di Vietnam sejak diluncurkan pada 2023.

"Inisiatif ekspansi ini dilakukan menjelang IPO Hong Kong yang direncanakan GSM pada tahun 2028," kata juru bicara GSM dalam wawancara dengan Reuters, dikutip Kamis (3/9/2026).


GSM dimiliki CEO VinFast Pham Nhat Vuong dan keluarganya. Perusahaan sebelumnya mengungkapkan persiapan IPO akan dimulai tahun ini melalui penawaran awal kepada calon investor besar, tetapi menolak membeberkan target valuasi maupun dana yang ingin dihimpun. Penasihat GSM sebelumnya disebut menyarankan valuasi sekitar US$20 miliar atau sekitar Rp352 triliun (asumsi kurs Rp17.600/US$).

Setelah masuk AS, Swedia, dan Belanda, GSM berencana memperluas operasinya ke pasar Eropa lainnya pada 2027. Perusahaan telah menjalankan bisnis di sejumlah pasar Asia dan baru-baru ini mengerahkan armada kendaraan di Denmark, dengan seluruh kendaraan yang digunakan berasal dari VinFast.

Ekspansi GSM menjadi peluang bagi VinFast untuk memperkuat penjualan kendaraan listriknya di luar Vietnam. Produsen mobil tersebut tengah berupaya meningkatkan penjualan internasional setelah ekspansi sebelumnya ke AS dan Eropa belum memenuhi harapan. Pada 2025, VinFast menjual hampir 200.000 mobil, tetapi hanya sekitar 11% yang terjual di luar negeri.

Meski demikian, strategi ekspansi GSM dinilai mengandung risiko tinggi karena mengandalkan model bisnis padat modal.

"Belum ditentukan apakah pasar luar negeri dapat mencapai pemanfaatan armada yang cukup untuk menyediakan skala yang cukup untuk menyeimbangkan risiko," kata Mehdi Jaouadi, analis industri otomotif sekaligus mitra konsultan YCP di Singapura.

Jaouadi memperingatkan, ekspansi dengan armada milik sendiri di sejumlah negara dapat meningkatkan ketergantungan GSM terhadap pendanaan eksternal.

"Terus mendanai armada milik perusahaan di beberapa pasar dapat meningkatkan ketergantungan pada modal eksternal," ujarnya.

Model bisnis GSM berbeda dari perusahaan ride-hailing seperti Grab dan GoTo Gojek Tokopedia yang lebih banyak mengandalkan pengemudi dengan kendaraan sendiri. Di Vietnam, sekitar 40% kendaraan yang beroperasi melalui platform GSM merupakan milik perusahaan, sementara GSM mulai menerapkan model hibrida dengan menggabungkan pengemudi karyawan dan pekerja lepas untuk menekan biaya.

Di AS dan Uni Eropa, GSM awalnya akan mengandalkan kendaraan milik perusahaan dan pengemudi yang direkrut langsung sebelum beralih ke model platform. GSM juga berencana membeli hingga 1 juta mobil VinFast sepanjang 2026-2030. Langkah ini membuat GSM tetap menjadi pembeli penting VinFast, meski porsinya terhadap penjualan mobil VinFast telah turun dari 72% pada 2023 menjadi sekitar seperempat saat ini.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Vinfast Kenalkan TCO Ubah Cara Hitung Biaya Mobil Listrik