Prabowo di Depan Putin: Kami Menghormati Semua Kekuatan

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Kamis, 03/09/2026 14:43 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato hadir sebagai Tamu Kehormatan Utama pada Forum Ekonomi Timur ke-11, Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)

Vladivostok, CNBC Indonesia - Presiden Indonesia Prabowo Subianto menjadi tamu kehormatan utama pada Forum Ekonomi Timur ke-9 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026) waktu setempat. Dalam pidatonya di depan peserta acara, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Prabowo menekankan posisi Indonesia di kancah global.



"Indonesia sangat terbuka selama berpuluh-puluh dekade, terbuka mengenai kebijakan kita," ujarnya.


Menurut Prabowo, Indonesia ingin memiliki hubungan yang positif dengan semua negara, termasuk negara-negara adidaya. Secara tradisional, lanjut dia, Indonesia tidak berpihak.

"Kami tidak tergabung ke dalam aliansi militer manapun, kami menghormati semua kekuatan," kata Prabowo.

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu pun bilang kalau Indonesia mandiri secara ekonomi dan ingin bekerja sama dengan semua negara. Indonesia pun sangat terbuka dalam bernegosiasi dengan para mitra.

"Kami menawarkan perdagangan yang adil," ujar Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo memastikan Indonesia sangat terbuka terhadap semua negara. Indonesia tidak akan bekerja sama dengan pihak yang memiliki kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan kelompok lain.

"Kami akan memperlakukan siapa pun yang ingin datang ke Indonesia secara adil. Kami memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang yang datang ke Indonesia," kata Prabowo.

Eks Menteri Pertahanan itu pun menegaskan kalau hubungan Indonesia dengan Rusia sudah terjalin sangat lama. Bahkan ketika Indonesia baru mendeklarasikan kemerdekaan tahun 1945, Rusia yang ketika itu masih bernama Uni Sovyet, peduli kepada Indonesia.

"Semua orang mengetahui sejarah ini dan kami tidak menutup-nutupinya," ujar Prabowo.


(miq/miq)
Saksikan video di bawah ini:

Presiden Iran & Putin Bertemu - Krisis 1997 Bakal Terjadi Lagi?