MARKET DATA

Bahlil-DPR Sepakati Lifting Minyak di RAPBN 2027 Capai 612.500 Barel

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
02 September 2026 09:25
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat raker dengan Komisi XII DPR RI, Senin (31/8/2026). (YouTube/TVR Parlemen)
Foto: (YouTube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersama Komisi XII DPR RI menyepakati target produksi minyak siap jual atau lifting minyak pada 2027 sebesar 612.500 barel per hari (bph).

Target tersebut meningkat dibandingkan target lifting minyak yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 610.000 bph.

Bahlil mengatakan, pemerintah sebelumnya mengusulkan asumsi lifting minyak 2027 dalam rentang 605.000-620.000 bph. Setelah melalui pembahasan, pemerintah dan DPR kemudian menyepakati angka 612.500 bph.

"Nah di 2027 kita memang ancang-ancang kita dalam nota pengantar APBN awal asumsi itu kan 605 sampai 620.000 barel per day. Nah tadi kita sepakati menjadi 612.500 barel per day," kata Bahlil di Gedung DPR, dikutip Rabu (2/9/2026).

Oleh sebab itu, guna menggenjot kenaikan produksi di tahun depan, Bahlil menyebut pada 2027 terdapat sejumlah penambahan sumur produksi. Salah satunya yang dikembangkan oleh Petronas di wilayah Madura.

"Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatera. Jadi saya pikir insya Allah doakan aja mudah-mudahan enggak ada trouble di sektor listrik atau di pipa," katanya.

Di sisi lain, ia mengakui realisasi lifting minyak nasional pada 2026 masih berada di bawah target yang ditetapkan dalam APBN sebesar 610.000 bph.

Bahlil mengatakan, salah satu faktor yang memengaruhi capaian lifting adalah penurunan produksi di Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil. Adapun, produksi blok tersebut disebut mengalami penurunan dari sebelumnya sekitar 185.000 bph menjadi 140.000 bph.

Selain itu, gangguan kelistrikan di Blok Rokan yang dioperatori PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) juga turut berdampak terhadap produksi minyak nasional. Gangguan tersebut menyebabkan kehilangan produksi sekitar 4-5 juta barel.

"Kemudian kita punya blok yang ada di Sumatra itu terjadi trouble listrik sehingga kita kehilangan kurang lebih sekitar 4 sampai 5 juta barel. Nah itu kemudian membuat target terhadap lifting di 2026 itu masih belum tercapai di 610.000 barel," kata Bahlil.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Minyak RI Masih di Bawah Target, Ternyata Ini Pemicunya


Most Popular
Features