BPS Prediksi Produksi Jagung RI Naik Sampai Tembus 14 Juta Ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung pipilan kering kadar air 14% (JPK KA 14%) sepanjang Januari-Oktober 2026 mencapai 14,25 juta ton, mengalami kenaikan sebanyak 0,18 juta ton, atau naik 1,25% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 14,08 juta ton.
Kenaikan produksi tersebut sejalan dengan peningkatan luas panen. Total luas panen jagung pipilan Januari-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 2,41 juta hektare, naik 0,02 juta hektare atau 0,64% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,40 juta hektare.
Namun, secara bulanan, produksi jagung pada Juli 2026 justru mengalami penurunan. Produksi JPK KA 14% pada Juli diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, atau turun 6,33% dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 1,48 juta ton.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan perkembangan produksi tersebut sejalan dengan perubahan luas panen jagung.
"Sejalan dengan gambaran luas panen, untuk produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% pada kondisi Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan Juli 2025 yang besarnya 1,48 juta ton," kata Ateng dalam konferensi pers Rilis BPS, Selasa (1/9/2026).
Dari sisi luas panen, BPS mencatat luas panen jagung pipilan pada Juli 2026 mencapai 0,23 juta hektare, lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 0,25 juta hektare. Artinya, penyusutan luas panen sebesar 6,06% turut tercermin pada penurunan produksi jagung Juli.
"Luas panen dan produksi jagung berdasarkan hasil amatan KSA pada kondisi Juli tahun 2026. Berdasarkan hasil pengamatan survei KSA di bulan Juli 2026, luas panen jagung pipilan pada kondisi Juli tahun 2026 mencapai 0,23 juta hektar. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan Juli tahun 2025 yang seluas 0,25 juta hektar," ujarnya.
Meski produksi dan luas panen Juli turun, BPS melihat kondisi pada periode berikutnya lebih positif. Potensi luas panen jagung pipilan pada Agustus-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 0,68 juta hektare, naik 0,03 juta hektare atau 4,03% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 0,65 juta hektare.
Kenaikan luas panen tersebut kemudian diikuti peningkatan potensi produksi. BPS memperkirakan produksi JPK KA 14% pada Agustus-Oktober 2026 mencapai 4,17 juta ton, naik 0,13 juta ton atau 3,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,04 juta ton.
Materi paparan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono terkait Produksi Jagung Pipilan Kering kadar Air 14 Persen dalam Konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Tangkapan Layar Youtube BPS Statistics) Foto: Materi paparan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono terkait Produksi Jagung Pipilan Kering kadar Air 14 Persen dalam Konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/9/2026). (Tangkapan Layar Youtube BPS Statistics) |
Dengan adanya potensi kenaikan luas panen dan produksi pada Agustus-Oktober tersebut, total luas panen Januari-Oktober 2026 diproyeksikan mencapai 2,41 juta hektare, sedangkan produksi diperkirakan mencapai 14,25 juta ton.
"Dengan demikian untuk produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang Januari sampai dengan Oktober tahun 2026 diperkirakan mencapai 14,25 juta ton atau mengalami peningkatan sebanyak 0,18 juta ton atau naik 1,25% dibandingkan dengan bulan Januari sampai dengan Oktober tahun 2025," jelas dia.
BPS menilai angka tersebut masih bersifat potensi, khususnya untuk periode Agustus-Oktober. Perubahan kondisi di lapangan dapat memengaruhi realisasi luas panen maupun produksi jagung.
Ateng mengatakan, potensi luas panen yang dihitung BPS juga mencakup tanaman jagung yang tidak seluruhnya akan dipanen dalam bentuk pipilan.
"Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen bukan untuk dipipil. Misalnya yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak," terang Ateng.
Selain itu, angka potensi tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi tanaman di lapangan, termasuk gangguan terhadap tanaman dan perubahan waktu panen.
"Angka potensi masih dapat berubah, tadi tergantung beberapa kondisi terkini hasil amatan di lapangan seperti serangan hama atau organisme pengganggu dan lain-lainnya yang sudah saya sebutkan tadi sebelumnya," pungkasnya.
