Inflasi Inti Bergerak ke 2,92%: Terkerek Harga Emas, Laptop-Oli Mesin
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan inflasi Indonesia secara tahunan atau year on year (yoy) bergerak ke level 3,19% pada Agustus 2026. Dipicu oleh seluruh komponen pembentuknya yang mengalami tekanan inflasi.
Inflasi inti bahkan terkerek ke level 2,92% (yoy) pada Agustus 2026, lebih tinggi dibanding catatan pada Agustus 2025 yang sebesar 2,17% yoy.
Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental seperti permintaan dan penawaran, hingga lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas, hingga perkembangan ekonomi global.
"Inflasi inti secara tahunan 2,92%, dengan komponen ini andilnya terbesar, yakni 1,87%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Ateng menjelaskan, untuk komponen inflasi inti, komoditas yang memberikan andil pada Agustus 2026 secara tahunan di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, hingga laptop atau notebook.
Adapun untuk komponen inflasi non inti, seperti inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food dan harga yang diatur pemerintah atau administered prices masing-masing mengalami inflasi 4,06% yoy dan 3,32% yoy.
Komponen harga pangan bergejolak menurut ateng dipicu oleh kenaikan harga komoditas daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah. Namun, untuk komponen harga pangan bergejolak tercatat lebih rendah dari Agustus 2025 yang sebesar 4,47%.
Sementara itu, untuk komponen harga diatur pemerintah, mengalami inflasi akibat komoditas bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin dan bahan bakar rumah tangga. Tekanan inflasi harga yang diatur pemerintah ini pun tercatat lebih tinggi dibanding Agustus 2025 sebesar 1%.
(arj/arj)