El Nino Hantam Sawit RI-Ada BBM Baru B50, Stok CPO Aman?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 31/08/2026 17:35 WIB
Foto: Ilustrasi lahan sawit. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri sawit nasional mulai menghadapi ancaman penurunan produksi akibat fenomena El Nino. Meski demikian, stok crude palm oil (CPO) hingga akhir 2026 diperkirakan masih berada dalam kondisi aman.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, stok CPO pada akhir 2026 seharusnya masih berada di kisaran 2,5-2,9 juta ton. Ia juga menegaskan belum ada pengetatan pasokan CPO.

"Stok akhir tahun 2026 seharusnya masih di sekitar 2,5-2,9 juta ton. Tidak ada pengetatan pasokan," kata Eddy kepada CNBC Indonesia, Senin (31/8/2026).


Namun, Eddy mengingatkan produksi sawit pada 2027 tetap berpotensi mengalami penurunan. Berdasarkan laporan dari sejumlah cabang Gapki, beberapa wilayah sentra sawit masih mengalami hujan.

"Saya sudah mendapatkan laporan dari Cabang ternyata Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kalimantan Utara masih ada hujan. Jadi tetap kemungkinan produksi tahun 2027 terjadi penurunan, karena beberapa masih ada hujan, penurunannya sekitar 3 juta ton," ujarnya.

Adapun terkait penerapan biodiesel B50, Eddy memastikan produksi CPO tahun ini masih mencukupi sehingga tidak menjadi masalah bagi pelaksanaan program tersebut.

"Tahun ini 2026 ya, artinya tidak ada masalah dengan B50 di tahun ini," ucap dia.

Eddy juga menjelaskan pergerakan harga CPO tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasokan sawit. Ketersediaan minyak nabati lain seperti minyak bunga matahari, minyak kedelai, rapeseed, dan canola juga akan mempengaruhi harga.

"Harga CPO naik atau tidak tergantung pasokan minyak nabati lain seperti bunga matahari, minyak kedelai, rapeseed, canola. Apabila suplai minyak nabati lain bagus maka akan menekan juga harga minyak nabati termasuk minyak sawit," jelas dia.

Di tengah kondisi cuaca yang perlu diwaspadai, Eddy mengatakan anggota Gapki terus bersiaga. Bahkan, perusahaan sawit turut membantu pemadaman kebakaran di luar wilayah konsesi.

"Anggota Gapki terus siaga menghadapi cuaca seperti ini. Saat ini justru anggota Gapki banyak membantu pemadaman di luar konsesi, termasuk di sekitar bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru," ujarnya.

Produksi CPO RI Terancam Turun

Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung memperkirakan tekanan terhadap produksi CPO akan semakin terasa pada 2027.

Ia memproyeksikan produksi CPO Indonesia turun dari 51,6 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 49,2 juta ton pada 2026, kemudian kembali turun menjadi sekitar 47,6 juta ton pada 2027.

Penurunan produksi tersebut diperkirakan terjadi akibat dampak El Nino yang melanda Indonesia dan Malaysia sejak kuartal III-2026 dan diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal I bahkan kuartal II 2027.

"Dampak El Nino pada produksi sawit Indonesia sudah mulai terlihat pada kuartal IV-2026 dan dampak terbesarnya terjadi sepanjang tahun 2027. Penurunan produksi CPO juga terjadi di Malaysia, yang turun dari sekitar 20,2 juta ton menjadi sekitar 19,5 juta ton tahun 2026," sebut Tungkot, dihubungi terpisah.

Secara global, produksi CPO juga diproyeksikan menurun. Produksi CPO dunia yang mencapai 85,4 juta ton pada 2025 diperkirakan turun menjadi 85,2 juta ton pada 2026 dan kembali turun menjadi sekitar 83,6 juta ton pada 2027.

Pada saat yang sama, konsumsi CPO domestik Indonesia diperkirakan meningkat karena penerapan B50. Pada 2026, kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan sekitar 14 juta ton, sementara kebutuhan untuk pangan sekitar 10,2 juta ton dan oleokimia sekitar 2,2 juta ton. Dengan demikian, total konsumsi domestik diperkirakan mencapai 26-27 juta ton.

Jika B50 diterapkan secara penuh pada 2027, kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton. Dengan produksi nasional yang hanya sekitar 47,6 juta ton, volume CPO yang tersedia untuk ekspor pun dipastikan semakin sedikit.

Kondisi tersebut diperkirakan mendorong pasar minyak sawit dunia mengalami excess demand. Tungkot memperkirakan harga CPO dunia pada 2027 berada di kisaran US$1.650-1.720 per ton.

"Menghadapi harga CPO yang makin meningkat tahun 2027, memang ada insentif harga bagi pelaku perkebunan sawit Indonesia untuk meningkatkan produksi untuk meningkatkan ekspor. Sayangnya ruang secara teknis untuk meningkatkan produksi pada masa El Nino ekstrim saat ini, tidak banyak yang dapat dilakukan. Bagi kebun-kebun sawit yang relatif toleran terhadap kekeringan masih terbuka untuk meningkatkan produksinya, dengan perbaikan atau inovasi best praktis yang quick yielding. Kebun-kebun seperti ini perlu diidentifikasi, dan dijadikan andalan pada masa El Nino ini," jelasnya.

Namun, kondisi tersebut juga menciptakan dilema bagi pemerintah. Menurut Tungkot, kenaikan harga CPO dunia memang memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperoleh devisa. Di sisi lain, ketersediaan CPO untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya minyak goreng rakyat seperti MinyaKita dan mandatori biodiesel, tetap harus dipenuhi.

Kenaikan harga CPO dunia juga, katanya, berpotensi meningkatkan beban subsidi atau insentif biodiesel. Sebab, harga pembelian biodiesel domestik atau HIP oleh Pertamina didasarkan pada harga CPO domestik atau harga CPO KPBN yang turut meningkat ketika harga CPO dunia naik.

"Kenaikan harga minyak sawit dunia juga membuat beban subsidi atau insentif mandatori biodiesel makin besar, kecuali harga minyak bumi meningkat. Sebab harga pembelian biodiesel domestik (HIP) oleh Pertamina, didasarkan pada harga CPO Domestik, harga CPO KPBN yang juga meningkat dengan meningkatnya harga CPO dunia," pungkas dia.

Stok 2026 Menyusut, Masih Lebih Tinggi dari 2025

Sebagai informasi, Gapki mencatat, produksi, konsumsi, dan ekspor minyak sawit Indonesia menigkat, sementara stok menyusut.

Tercatat, produksi total minyak sawit Indonesia di bulan Juni 2026 mencapai 5,277 juta ton, naik 8,59% dari bulan Mei 2026 yang mencapai 4,552 juta ton.

Secara kumulatif di periode Januari-Juni 2026, total produksi minyak sawit nasional mencapai 30,284 juta ton, lebih tinggi 15,82% dibandingkan periode sama tahun 2025 yang sebesar 27,889 juta ton.

Sementara, total konsumsi dalam negeri pada Juni 2026 mencapai 2,201 juta ton, naik 5,92% dibandingkan Mei sebesar 2,078 juta ton.

Peningkatan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1,131 juta ton, naik dari 1,035 juta ton pada Mei.

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 12,994 juta ton, lebih tinggi 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 12,272 juta ton.

Di sisi lain, total ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai 3,275 juta ton, naik 64,08% dibandingkan Mei sebesar 1,996 juta ton. Secara kumulatif Januari-Juni 2026, total ekspor mencapai 16,595 juta ton, lebih tinggi 5,79% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 15,686 juta ton. Nilai ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai US$3,92 miliar, naik 57,45% dari US$2,49 miliar pada Mei 2026.

Dijelaskan, kenaikan nilai ekspor didukung oleh kenaikan volume yang besar meskipun ratarata harga ekspor CPO pada bulan Juni US$1.174 per ton lebih rendah dari harga rata-rata bulan Mei sebesar US$1.227 (-4,32%). Secara kumulatif Januari-Juni 2026, nilai ekspor mencapai US$19,45 miliar, lebih tinggi 12,57% dari periode sama tahun 2025 sebesar US$17,277 milliar.

Di saat bersamaan, per Juni 2026, tercatat stok akhir minyak sawit Indonesia ada di level 2,844 juta ton. Menyusut dari posisi di akhri Mei 2026 yang ada di 3,042 juta ton.

Tapi, lebih tinggi jika dibandingkan posisi akhir stok per Juni 2025 yang sebesar 2,530 juta ton. Dan, dibandingkan stok akhir setahun 2025 yang ada di 2,068 juta ton per Desember 2025. 

Amran Ungkap Antisipasi Pemerintah

Potensi penurunan produksi CPO tersebut turut menjadi perhatian pemerintah. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, mengatakan dampak El Nino terhadap produksi sawit diharapkan tidak terlalu besar.

"Jadi kalau sawit mudah-mudahan tidak besar dampaknya. Mungkin ada pengaruhnya tapi mudah-mudahan tidak besar. Karena CPO kita tahun lalu kan meningkat kan dari ekspor 26 juta ton menjadi 32 juta ton. Dengan seluruhnya ya, yang sudah diolah setengah jadi dan yang diekspor langsung," kata Amran saat ditemui di Karawang, Jawa Barat.

Amran mengatakan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produksi sawit, terutama dengan memastikan kebutuhan pupuk hingga pemeliharaan tanaman tetap terpenuhi.

"Iya, kami lihat juga mudah-mudahan.. kita berupaya. Upaya kita adalah tentu jangan sampai kekurangan pupuk. Pupuknya harus tepat waktu. Kemudian pemeliharaannya, kemudian hama, kemudian dampak kekeringan," ucapnya.

Ia menambahkan, tanaman sawit yang terdampak kekeringan juga perlu mendapat penanganan, termasuk melalui pengairan jika memungkinkan.

"Kalau ada sawit yang yang sudah besar, kalau bisa diairi.. Banyak langkah-langkah kita," ujar dia.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Petaka Kekeringan Eropa 'Menggila'